NTTKreatif.com, Tambolaka – Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya terus mendorong pengembangan sektor pertanian melalui berbagai program prioritas.
Salah satu langkah yang menjadi perhatian dalam kepemimpinan Bupati Ratu Wulla Talu dan Wakil Bupati Dominikus Alphawan Rangga Kaka adalah memperkuat sarana dan prasarana pertanian melalui pemberian bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) kepada kelompok tani.
Program tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah dalam mempercepat modernisasi pertanian, meningkatkan produktivitas lahan, menekan biaya pengolahan tanah, serta memperkuat ketahanan pangan di Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur.
Komitmen tersebut tidak hanya disampaikan melalui berbagai kesempatan, tetapi juga telah dituangkan dalam dokumen perencanaan pembangunan daerah. Salah satunya Peraturan Bupati Sumba Barat Daya Nomor 24 Tahun 2025 tentang Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Tahun 2026.
Dalam dokumen tersebut, Program Bantuan Alsintan tercantum sebagai salah satu program prioritas Bupati dan Wakil Bupati. Pelaksanaannya berada di bawah koordinasi Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Sumba Barat Daya.
Program ini diarahkan untuk membantu kelompok-kelompok tani mendapatkan sarana dan prasarana yang dibutuhkan dalam kegiatan produksi pertanian, sekaligus mendorong pengelolaan lahan yang lebih efektif dan produktif.
Langkah tersebut menjadi penting mengingat sebagian besar masyarakat Sumba Barat Daya masih menggantungkan kehidupan ekonominya pada sektor pertanian. Karena itu, peningkatan produktivitas pertanian menjadi salah satu faktor penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Pada awal masa pemerintahan, komitmen tersebut mulai diwujudkan melalui penyaluran bantuan alsintan. Dalam laporan capaian 100 hari kerja Bupati dan Wakil Bupati pada Juni 2025, pemerintah daerah menyampaikan telah menyalurkan 15 unit handtraktor dan tujuh unit pompa air kepada kelompok tani di empat kecamatan.
Bantuan tersebut menjadi bagian dari langkah awal pemerintah daerah dalam memperkuat kemampuan petani mengolah lahan dan memenuhi kebutuhan air untuk kegiatan pertanian.
Dukungan terhadap petani kemudian berlanjut melalui berbagai kegiatan penyerahan bantuan dan pengembangan komoditas pertanian di sejumlah wilayah.
Pada 20 Oktober 2025, Bupati Ratu Wulla Talu menyerahkan bantuan alsintan kepada Kelompok Tani Kasumbu Iya Tekki di Dusun I Mikku Ate, Desa Waimangura.
Bantuan yang diberikan berupa satu unit handtraktor, satu unit kultivator, serta benih padi sebanyak 500 kilogram.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Sumba Barat Daya saat itu, Frid Tukan, menjelaskan bahwa benih padi yang disalurkan merupakan varietas Situ Bagendit yang diperuntukkan bagi pengembangan pertanian di lahan tadah hujan.
Benih tersebut direncanakan untuk mendukung musim tanam pertama pada periode Oktober hingga April. Kegiatan itu juga dirangkaikan dengan penanaman perdana singkong gajah sebagai bagian dari upaya pengembangan komoditas pertanian alternatif.
Memasuki Januari 2026, pemerintah daerah kembali menyalurkan bantuan alsintan dalam jumlah yang lebih besar. Sebanyak 25 unit handtraktor diserahkan kepada 25 kelompok tani di Sumba Barat Daya.
Penyerahan dilakukan secara simbolis oleh Bupati Ratu Wulla di Lopo Rumah Jabatan Bupati. Kegiatan tersebut turut dihadiri Wakil Ketua DPRD Sumba Barat Daya Yusuf Bora, sejumlah anggota DPRD dan jajaran Dinas Pertanian.
Dalam sambutannya, Bupati Ratu Wulla menegaskan bahwa bantuan handtraktor merupakan bentuk komitmen pemerintah daerah bersama DPRD untuk mendukung pembangunan sektor pertanian.
Ia berharap keberadaan alat tersebut dapat mempercepat pengolahan lahan, meningkatkan produktivitas pertanian, sekaligus membantu mengurangi beban pekerjaan petani.
Bupati juga mengingatkan kelompok tani penerima agar menjaga dan memanfaatkan bantuan sesuai peruntukannya. Alsintan yang diberikan diharapkan menjadi fasilitas bersama yang digunakan untuk kepentingan seluruh anggota kelompok tani, bukan hanya kepentingan pribadi.
Perhatian pemerintah terhadap petani juga terlihat melalui pengembangan hortikultura. Pada 14 April 2025, Bupati Ratu Wulla mengikuti kegiatan tanam dan panen hortikultura bersama Kelompok Tani Lete Nduana di Desa Ombarade, Kecamatan Wewewa Tengah.

Dalam kegiatan tersebut, Bupati Ratu menyampaikan komitmen pemerintah untuk mendukung petani melalui penyediaan sarana produksi dan pendampingan.
“Kami hadir, pemerintah hadir, dan akan terus memberikan dukungan melalui penyediaan alat pertanian, bibit, pupuk, dan lainnya,” demikian pernyataan Bupati Ratu Wulla dalam pemberitaan kegiatan tersebut.
Menurut Bupati, pembangunan pertanian tidak cukup hanya dengan mengajak masyarakat menanam. Pemerintah juga harus memikirkan bagaimana hasil produksi dapat dikelola dan dimanfaatkan secara maksimal sehingga memberikan nilai tambah bagi petani.
Komoditas yang dikembangkan dalam kegiatan tersebut antara lain kacang panjang, buncis dan berbagai jenis sayuran yang memiliki potensi ekonomi bagi masyarakat.
Dukungan pemerintah daerah terhadap pengembangan pertanian juga diperkuat melalui kolaborasi dengan pemerintah pusat dan pemerintah provinsi.
Pada 13 Juni 2026, Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya bersama pemerintah provinsi dan jajaran Kementerian Pertanian mengikuti kegiatan Gerakan Tanam (Gertam) 52.000 hektare di lahan optimalisasi lahan (OPLAH) dan CSR, Desa Tema Tana, Kecamatan Wewewa Timur.
Kegiatan yang diberitakan oleh Balai Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) NTT pada 17 Juni 2026 itu melibatkan penyuluh pertanian dan kelompok tani.
Bupati Ratu Wulla yang membuka kegiatan tersebut menyampaikan komitmen pemerintah daerah dalam mendukung program strategis pertanian, khususnya peningkatan produksi pangan dan swasembada pangan berkelanjutan.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT, Umbu Joaz, menyampaikan dukungan pemerintah pusat melalui penyediaan alsintan.
Kegiatan tersebut juga membahas peningkatan indeks pertanaman dari 1,5 menjadi 1,9 melalui optimalisasi lahan, perbaikan saluran irigasi dan penyediaan sarana produksi pertanian.
Upaya ini memperlihatkan bahwa pembangunan pertanian di Sumba Barat Daya tidak hanya diarahkan pada bantuan peralatan, tetapi juga pada peningkatan kemampuan lahan menghasilkan produksi secara berkelanjutan.
Manfaat program bantuan alsintan mulai dirasakan oleh masyarakat penerima. Salah satunya disampaikan Oktavianus Kadi Pada, anggota Kelompok Tani Persada di Desa Kabali Dana, Kecamatan Wewewa Barat.
Oktavianus menyampaikan apresiasinya terhadap bantuan handtraktor yang diterima kelompok tani mereka.
Menurutnya, keberadaan handtraktor membantu mempercepat pengolahan tanah dan pembukaan lahan baru untuk pengembangan hortikultura.
Ia mengatakan pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan waktu berhari-hari apabila dilakukan secara manual kini dapat diselesaikan lebih cepat. Kondisi tersebut juga membantu menghemat biaya operasional kelompok tani.
“Kami sangat bersyukur dan mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada pemerintah atas perhatian dan bantuan handtraktor ini. Dengan adanya alsintan ini, pengolahan lahan hortikultura kami menjadi jauh lebih ringan, dan hemat biaya operasional,” ungkap Oktavianus.
Kesaksian tersebut menjadi salah satu gambaran bagaimana bantuan peralatan pertanian dapat memberikan perubahan terhadap aktivitas produksi masyarakat di tingkat kelompok tani.
Di sisi lain, pemerintah daerah juga terus mendorong agar mekanisme pengajuan dan penyaluran bantuan dilakukan melalui prosedur yang berlaku.
Kepala Bidang Prasarana, Sarana dan Penyuluhan (PSP) Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Sumba Barat Daya, Agustinus Tanggela, menjelaskan bahwa bantuan dari Kementerian Pertanian, baik berupa alsintan, pupuk maupun sarana irigasi, disalurkan melalui mekanisme kedinasan berdasarkan usulan dari tingkat bawah.
Menurut Agustinus, pengusulan dilakukan melalui Dinas Pertanian atau bidang terkait untuk memastikan bantuan dapat diberikan sesuai kebutuhan kelompok tani dan kondisi lapangan.
Penjelasan tersebut menjadi bagian penting dalam memastikan program bantuan pemerintah berjalan secara terarah, mulai dari proses pengusulan, verifikasi calon penerima hingga pemanfaatan bantuan.
Agustinus juga menjelaskan bahwa terdapat sejumlah traktor roda empat yang sedang beroperasi di kalangan petani untuk mendatangkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Informasi ini menjadi bagian dari upaya pemanfaatan sarana pertanian pemerintah, meskipun besaran PAD dan mekanisme tarifnya masih perlu dikonfirmasi lebih lanjut.
Sektor pertanian juga memiliki potensi ekonomi yang besar bagi masyarakat Sumba Barat Daya bahkan Bupati Ratu Wulla sampai menyebut sekitar 85 persen masyarakat daerah tersebut menggantungkan kehidupan pada sektor pertanian.
Dalam kesempatan itu, Bupati Ratu memaparkan simulasi potensi pendapatan dari pengelolaan satu hektare sawah. Dengan asumsi produksi gabah mencapai enam ton per hektare dan setelah penggilingan menghasilkan sekitar 4,5 ton beras, pada harga Rp12.000 per kilogram nilai produksinya dapat mencapai Rp54 juta.
Bupati Ratu juga menyebut estimasi biaya produksi sekitar Rp8 juta dalam perhitungan tersebut. Angka itu merupakan simulasi yang disampaikan dalam kegiatan tersebut dan tentu dapat berbeda sesuai kondisi lahan, produktivitas serta biaya operasional masing-masing petani.
Pemaparan tersebut memperlihatkan besarnya potensi sektor pertanian apabila didukung pengelolaan lahan yang baik, ketersediaan sarana produksi dan akses pemasaran yang memadai.
Karena itu, dukungan terhadap sektor pertanian perlu dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pengolahan lahan, ketersediaan benih dan pupuk, pengairan, peningkatan produksi hingga pemasaran hasil panen.
Meski berbagai bantuan telah disalurkan, keberlanjutan program tetap membutuhkan pengawasan dan evaluasi. Pemerintah perlu memastikan seluruh alsintan yang telah diberikan benar-benar dimanfaatkan oleh kelompok tani, dirawat dengan baik dan dapat diakses sesuai kebutuhan anggota kelompok.
Transparansi dalam proses pengadaan, penetapan penerima serta pengelolaan aset pertanian juga menjadi bagian penting agar bantuan pemerintah tepat sasaran dan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat.
Pada akhirnya, keberhasilan program unggulan sektor pertanian tidak hanya diukur dari jumlah handtraktor, pompa air atau kultivator yang diserahkan. Ukuran yang lebih penting adalah meningkatnya luas lahan yang diolah, bertambahnya hasil produksi, berkurangnya biaya usaha tani dan membaiknya pendapatan keluarga petani.
Melalui program bantuan alsintan, pengembangan hortikultura, dukungan benih dan sarana produksi, serta kolaborasi dengan pemerintah pusat, kepemimpinan Ratu Ngadu Bonu Wulla dan Dominikus Alphawan Rangga Kaka menempatkan modernisasi pertanian sebagai salah satu upaya mendorong pembangunan ekonomi masyarakat Sumba Barat Daya.
Harapannya, dukungan tersebut tidak berhenti pada penyerahan bantuan, tetapi terus berlanjut menjadi kekuatan bagi petani untuk meningkatkan produktivitas, memperluas peluang usaha dan mewujudkan pertanian Sumba Barat Daya yang lebih maju, mandiri dan berkelanjutan.***
