NTTKreatif.com, Tambolaka – Julie Laiskodat menunjukkan sisi lainnya sebagai anggota DPR RI. Di tengah kesibukkan sebagai wakil rakyat di parlemen, perempuan yang dikenal mencintai tenun ikat itu masih menyempatkan dirinya turun untuk melihat langsung penderitaan warga terdampak bencana di Pulau Sumba khususnya di Kabupaten Sumba Barat Daya, tepatnya di Desa Dinjo.
Kunjungan tersebut ia lakukan di tengah kegiatan sosialiasi bersama mitra BPK dan OJK di wilayah tersebut pada Kamis kemarin.
Dirinya datang bersama dengan Bupati SBD, Ratu Ngadu Bonnu Wulla, Wakil Bupati SBD, Dominikus A Rangga Kaka, Wakil Ketua DPRD Provinsi NTT, Kristien Samiyati Pati, Wakil Ketua DPRD SBD Thomas Tanggu Dendo dan anggota Fraksi NasDem DPRD SBD.
Turut hadir Camat Kodi Bangedo, Kapolsek Kodi Bangedo, Kepala Desa Dinjo Marthinus Maru Gheda, serta 28 warga korban terdampak.
Tak hanya berkunjung, di kesempatan tersebut, Julie Laiskodat pun langsung menyalurkan bantuan buat 28 korban terdampak.
“Saya berharap Bapak dan Mama tidak berkecil hati. Hari ini daerah ini menjadi perhatian kita. Saya hadir bersama Ibu Bupati dan Bapak Wakil Bupati untuk melihat langsung kondisi masyarakat dan memberikan dukungan,” katanya membuka perjumpaan tersebut.
Menurut dia, kebutuhan pokok harus menjadi prioritas dalam penanganan awal bencana. Karena itu, ia berharap penyaluran bantuan sembako dapat terus dilakukan sesuai kebutuhan warga terdampak.
Namun, Julie menilai bahwa penanganan bencana tidak cukup berhenti pada pemenuhan kebutuhan sehari-hari.
Kerusakan rumah warga, kata dia, juga perlu ditangani melalui pendataan yang akurat dan pembagian kewenangan yang jelas antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah.
Ia menyebut telah berkoordinasi dengan Bupati dan Wakil Bupati SBD mengenai kondisi rumah warga, mulai dari kerusakan ringan hingga kerusakan berat. Data yang telah dihimpun pemerintah desa akan menjadi dasar untuk menentukan bentuk penanganan selanjutnya.
Julie mengakui proses penanganan melalui pemerintah pusat terkadang membutuhkan waktu. Karena itu, ia meminta agar warga tidak dibiarkan menunggu tanpa kepastian ketika rumah mereka membutuhkan perbaikan.
Ia pun mendorong adanya program NasDem Peduli dengan pelan-pelan membantu 28 warga yang terdampak dengan bantuan bahan bangunan bagi rumah warga yang terdampak, antara lain batu, pasir, semen, dan material lain sesuai kebutuhan.
“Kita akan melihat kemungkinan membantu masyarakat yang rumahnya terdampak. Nanti kita koordinasikan bersama Ibu Bupati dan Bapak Wakil Bupati berdasarkan data 28 rumah tersebut,” katanya.
Julie pun meminta warga tetap semangat menjalani aktivitas sehari-hari, terutama bagi masyarakat yang menggantungkan hidup pada sektor pertanian, dengan tetap memperhatikan kondisi dan kemampuan masing-masing setelah gempa.
Sementara itu, Bupati SBD, Ratu Ngadu Bonu Wulla, mengatakan pemerintah daerah terus melakukan penanganan pasca gempa.
Meski sejumlah langkah awal telah dilakukan, kerusakan bangunan, termasuk rumah warga yang mengalami retak, masih menjadi pekerjaan yang harus diselesaikan.
Ia menyebut data kerusakan telah dihimpun pemerintah desa dan akan dikirim untuk diproses lebih lanjut.
Pemerintah juga, kata Bupati SBD, akan menyesuaikan penanganan dengan ketentuan mengenai pembagian kewenangan antara pemerintah pusat dan daerah.
“Data kerusakan sudah masuk dan akan kami kirim untuk diproses lebih lanjut. Kerusakan dengan tingkat tertentu, yakni di atas 20 persen, menjadi kewenangan pemerintah pusat, sedangkan yang menjadi kewenangan pemerintah daerah sedang kami persiapkan penanganannya,” ujarnya.
Ratu Wulla mengatakan bahwa keterbatasan anggaran daerah menjadi salah satu tantangan dalam membantu seluruh warga terdampak.
Meski demikian, pemerintah kabupaten akan mengatur sumber daya yang tersedia agar bantuan tetap menjangkau masyarakat sesuai kemampuan pemerintah.
Ia juga memastikan bahwa bantuan awal berupa beras, terpal, selimut, mi instan, dan kebutuhan lainnya telah disalurkan kepada warga terdampak.
Ratu Wulla menyampaikan apresiasi kepada jajaran pemerintah kecamatan, pemerintah desa, serta pihak-pihak yang bergerak membantu masyarakat sejak hari pertama setelah gempa terjadi.***

