NTTKreatif.com, Tambolaka-Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) menegaskan komitmennya untuk menjadikan sekolah sebagai lingkungan yang aman dari ancaman bencana. Penegasan itu disampaikan saat pembukaan Lokakarya Integrasi Model Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) yang Berpusat pada Anak di Aula Hotel Sinar Tambolaka, Jumat (30/10/2026).
Bupati SBD Ratu Wulla Talu yang diwakili Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat (Asisten I) Setda SBD, Cristofel Horo, SH, membuka secara resmi kegiatan tersebut.
Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara Save the Children Indonesia, Yayasan Circle of Imagine Society (CIS) Timor, dan Pemerintah Daerah SBD melalui dukungan program Generation Ready (GENRE).
Dalam sambutan tertulis Bupati yang dibacakan Asisten I, Cristofel Horo menyampaikan apresiasi mendalam kepada Save the Children Indonesia, Yayasan CIS Timor, dan seluruh pemangku kepentingan yang telah mendukung penguatan kesiapsiagaan bencana dan perlindungan anak di lingkungan sekolah.
Ia menegaskan, Kabupaten SBD memiliki kerentanan tinggi terhadap berbagai bencana, termasuk gempa bumi dan bencana hidrometeorologi seperti banjir, angin kencang, dan kekeringan. Oleh sebab itu, sekolah tidak boleh hanya menjadi tempat belajar, tetapi harus menjadi tempat yang aman bagi anak.
“Keamanan itu harus diwujudkan melalui penyediaan fasilitas yang memadai, penguatan manajemen penanggulangan bencana di sekolah, maupun melalui pendidikan risiko bencana kepada peserta didik dan guru,” tegas Cristofel Horo membacakan sambutan Bupati.
Menurutnya, penguatan Sekretariat Bersama Satuan Pendidikan Aman Bencana (SEKBER SPAB) merupakan langkah penting dan strategis. Namun, keberadaan SEKBER tidak boleh hanya formalitas di atas kertas, melainkan harus ditindaklanjuti dengan kerja nyata di lapangan.
“Melalui lokakarya ini, kita perlu menyelaraskan rencana kerja SEKBER SPAB dengan program perangkat daerah dan mitra pembangunan, agar pelaksanaannya lebih terarah, terpadu, dan berkelanjutan,” ujarnya.
Asisten I juga meminta seluruh peserta lokakarya untuk berpartisipasi aktif. Tidak hanya hadir sebagai pendengar, tetapi ikut memetakan program yang sudah ada, menetapkan target yang terukur, membagi peran dan tanggung jawab yang jelas, serta merumuskan rencana tindak lanjut dan kebutuhan regulasi pendukung sesuai ketentuan yang berlaku.
Di akhir sambutannya, Bupati melalui Asisten I menegaskan prinsip utama SPAB di SBD.
“Pendekatan SPAB harus berpusat pada anak, inklusif dan responsif terhadap kebutuhan seluruh peserta didik. Anak bukan hanya pihak yang harus dilindungi, tetapi juga harus dibekali pengetahuan, keterampilan, dan dilibatkan secara aktif dalam membangun budaya kesiapsiagaan di sekolah,” pungkasnya.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut pimpinan dan perwakilan Save the Children Indonesia dan Yayasan CIS Timor, para pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait, narasumber, pimpinan NGO/LSM, Forum Inklusi, dan Gender Equality and Social Inclusion (GESI), serta tamu undangan lainnya.

