NTTKreatif.com, Tambolaka – Keluarga besar Suku Beidello di Desa Nyura Lele, Kecamatan Wewewa Timur terus konsisten menjaga warisan budaya dan tradisi mereka yang diwarisi para leluhur.

Terbaru kekonsistenan itu ditunjukkan dengan penanaman 4 tiang besar untuk pembangunan rumah Suku Beidello pada Senin, 5 Oktober 2026 lalu.

4 tiang rumah ini sendiri dalam budaya Sumba pada umumnya tidak hanya sebagai pilar kokoh yang menopang seluruh struktur rumah, khususnya bagian menara dan kerangka atap yang menjulang tinggi tapi memiliki makna filosofis budaya yang dipandang sebagai acuan utama yang merepresentasikan keseimbangan alam, arah mata angin, serta hubungan harmonis antara manusia, alam, dan leluhur (Marapu).

Acara tersebut pun dihadiri oleh Asisten Administrasi Umum, Enos Eka Dede mewakili Bupati Sumba Barat Daya, Ratu Wulla Talu.

Tampak hadir pula dalam kesempatan itu, para pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD terkait, Camat Wewewa Timur, Perwakilan Kapolsek Wewewa Timur, Babinsa, Kepala Desa Nyura Lele, para tetua adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta keluarga besar Suku Beidello.

Dalam sambutan yang dibacakan Enos Eka Dede, Bupati SBD, Ratu Wulla Talu secara gamblang memberikan apresiasi kepada keluarga besar Suku Beidello yang konsisten merawat sejarah, identitas, dan tradisi leluhur.

Bupati Ratu menegaskan bahwa pembangunan rumah cagar budaya ini merupakan wujud nyata kebersamaan antara keluarga besar Beidello, tetua adat, dan tokoh agama dalam menjaga warisan leluhur agar tidak lekang oleh zaman.

Ia juga berharap keberadaan rumah cagar budaya ini dapat menjadi ruang hidup untuk merawat sejarah, memperkuat nilai adat, serta meneguhkan jati diri masyarakat Sumba Barat Daya.

“Dengan demikian, generasi muda diharapkan akan terus mengenal, mencintai, dan menghargai akar budaya warisan para leluhur mereka,” tegasnya.

Ke depannya, bangunan ini diproyeksikan tidak hanya sebagai tempat menyimpan benda-benda pusaka leluhur, tetapi juga sebagai pusat edukasi sejarah asal-usul Suku Beidello bagi generasi mendatang.

Lebih lanjut, penanaman empat tiang besar yang dilakukan hari ini memiliki simbolisme mendalam, yakni melambangkan tubuh manusia—baik laki-laki maupun perempuan—sebagai bagian integral dari nilai dan identitas budaya yang wajib dijaga kelestariannya.***