Dirinya menceritakan kalau pembuatan surat tersebut dilakukan bukan di kediaman korban mengingat tidak ada alat yang tersedia di tempat tersebut.

“Terkait dengan surat itu, saya bahkan diberikan kesempatan untuk berbicara saat alm Yulius tiba di Wee Raraka, bahkan saya bilang kita akan berita acarakan apa yang menjadi kesepakatan keluarga dan pihak toko. Memang suratnya itu kami bukan ketik disini karena tidak ada laptop dan printer,” ungkapnya lagi.

">

Sudah Lakukan Proses Adat

Sementara di sisi lain, ayah alm Yulius, Ledi Masa menyebut sudah melakukan prosesi adat.

Hasilnya, alm Yulius sebutnya bukan tertimpa semen melainkan tewas karena dirinya dipukul.

Sehingga pihak keluarga tambahnya akan kembali melakukan upara adat pemanggilan arwah alm Yulius pada bulan Oktober mendatang.

“Kami sudah melakukan urata (upacara adat) hasilnya itu anak saya dipukul bukan tertimpa semen. Dan bulan Oktober ini kami akan melakukan Saiso untuk pemanggilan arwah alm Yulius,” ungkapnya.***

Terima Kasih sudah membaca berita/artikel kami. Terus dukung kami dengan cara berdonasi ke Rek Bank NTT: 2513684625