NTTKreatif, TAMBOLAKA – Kronologi Tewasnya alm Yulius Tena Bolo, yang diduga tertimpa semen pada 28 juli 2024 masih terus dipertanyakan pihak keluarga.

Sebelumnya ayah kandung alm Yulius, Ledi Masa menyebut, surat penolakan autopsi diberikan oleh Anggota Polisi dan Aparat Desa Mandungo tanpa dibacakan.

">

Bahkan sebut ayah kandung alm Yulius, Ledi Masa, ada paksaan dalam penandatangan surat tolak autopsi itu.

Namun kemudian dibantah oleh oknum anggota Polsek Wewewa Selatan.

Malah hal tersebut kian dipertegas saat Aparat Anggota Polisi dan Aparat Desa Mandungo menemui pihak keluarga alm Yulius Tena Bolo pada Jumat 23 Agustus 2024 kemarin.

Mendadak, Ledi Masa mengubah pengakuannya dan menyebut kalau tidak ada paksaan dalam penandatangan surat autopsi tersebut.

Tidak hanya Ledi Masa, kakak kandung alm Yulius, Lukas Kadi Baga dan Marselinus Bulu Pada pun menyebut hal yang sama.

Sebelum menandatangi surat tolak autopsi, baik Merselinus Bulu Pada maupun Lukas Kadi Baga ternyata masih sempat membaca isi surat itu.

“Kami memang sempat baca surat sebelum menandatangi, tetapi tidak sempat baca semua,” ungkap mereka ketika ditemui NTTKreatif Jumat 23 Agustus 2024 kemarin.

Sekretaris Desa Mandungo, Yustinus Bili Ngongo yang hadir pun membenarkan hal tersebut.

Dirinya menceritakan kalau pembuatan surat tersebut dilakukan bukan di kediaman korban mengingat tidak ada alat yang tersedia di tempat tersebut.

“Terkait dengan surat itu, saya bahkan diberikan kesempatan untuk berbicara saat alm Yulius tiba di Wee Raraka, bahkan saya bilang kita akan berita acarakan apa yang menjadi kesepakatan keluarga dan pihak toko. Memang suratnya itu kami bukan ketik disini karena tidak ada laptop dan printer,” ungkapnya lagi.

Sudah Lakukan Proses Adat

Sementara di sisi lain, ayah alm Yulius, Ledi Masa menyebut sudah melakukan prosesi adat.

Hasilnya, alm Yulius sebutnya bukan tertimpa semen melainkan tewas karena dirinya dipukul.

Sehingga pihak keluarga tambahnya akan kembali melakukan upara adat pemanggilan arwah alm Yulius pada bulan Oktober mendatang.

“Kami sudah melakukan urata (upacara adat) hasilnya itu anak saya dipukul bukan tertimpa semen. Dan bulan Oktober ini kami akan melakukan Saiso untuk pemanggilan arwah alm Yulius,” ungkapnya.***

Terima Kasih sudah membaca berita/artikel kami. Terus dukung kami dengan cara berdonasi ke Rek Bank NTT: 2513684625