Namun, saat mengetahui isi surat itu, pihaknya pun akhirnya dibuat kecewa.
“Pas malamnya kami dengan keluarga sudah habis makan, kira-kira sekitar jam 1 malam, salah satu oknum anggota polisi bersama oknum aparat desa datang. Saya sementara di dalam rumah. Lalu saya dipanggil untuk tanda tangan surat itu ditempel materai 10 ribu. Karena saya tidak bisa menulis tidak bisa membaca disertai dengan kejadian begini saya langsung tanda tangan. Mereka tidak bacakan surat itu. Anak saya juga ada, tapi tidak baca lagi apa isi surat itu langsung tanda tangan. Setelah itu baru saya tahu kalau surat itu isinya tolak autopsi,” ungkapnya.
Hal yang sama pun disampaikan sang kakak, Lukas Kadi Baga.
Dirinya mengakui kalau ia juga turut menandatangi surat tersebut tanpa membaca isi surat tersebut.
Sebut Ada Kejanggalan
Dirinya melanjutkan selain kejanggalan soal surat, kematian sang adik Yulius pun ungkapnya perlu didalami.
Pasalnya, saat kejadian dirinya bersama keluarga tidak mengetahui persis kejadian yang menewaskan alm Yulius.
Malah, keluarga baru mengetahuinya setelah jenazah alm sudah berada di RS Karitas, Weetabula.
“Awalnya bilang jatuh dari motor lah, bilang tabrakan lah cuma tidak jelas. Sehingga kami putuskan ke RS Caritas setelah sebelumnya bertemu Sekdes Mandungo. Kenapa teman kerjanya almarhun adik saya ini langsung mengantarnya ke rumah sakit, harusnya kami pihak keluarga dapat dia dulu digudang dalam keadaan seperti apapun, nah kami kaget adik saya sudah langsung dikamar mayat. Kami tidak bisa buat apa-apa karena kami sangat bingung waktu itu,” katanya penuh tanya.
Dirinya pun meminta aparat untuk menelusuri kembali kematian sang adik agar kasusnya bisa menjadi terang benderang.***
|

Tinggalkan Balasan