NTTKreatif, TAMBOLAKA – Baru-baru ini, publik dikagetkan dengan meninggalnya salah satu karyawan tokoh yang bekerja sebagai buruh semen di gudang Toko Junior, Yulius Tena Bolo.

Dirinya meninggal pada tanggal 28 Juli 2024 lalu. Diduga dirinya meninggal karena ketindihan semen saat bekerja.

">

Pihak Toko pun bergeming dan menyatakan siap bertanggung jawab atas kematian Yulius Tena Bolo tersebut sehingga kasus tersebut pun kemudian dihentikan tanpa adanya autopsi.

Pihak keluarga pun disebut menerima kematian anaknya.

Anehnya, saat semua menganggap kasus tersebut sudah tuntas muncul fakta baru seputar kasus kematian Yulius Tena Bolo tersebut.

Fakta itu berkaitan dengan surat penolakan autopsi yang disebut tidak dibacakan oleh pihak terkait kepada keluarga namun memaksa keluarga untuk menandatanginya.

Hal tersebut terungkap dalam postingan salah satu keluarga di media sosial Facebook dan dibenarkan oleh pengakuan sang ayah korban, Ledi Masa, Minggu 18 Agustus 2024 kemarin.

Ledi Masa mengatakan kalau pihaknya bimbang dalam mengambil keputusan saat itu karena dirinya didesak oknum aparat dan aparat desa Mandungo untuk menandatangi surat tersebut tanpa membacanya terlebih dahulu karena keterbatasan SDM.

Namun, saat mengetahui isi surat itu, pihaknya pun akhirnya dibuat kecewa.

“Pas malamnya kami dengan keluarga sudah habis makan, kira-kira sekitar jam 1 malam, salah satu oknum anggota polisi bersama oknum aparat desa datang. Saya sementara di dalam rumah. Lalu saya dipanggil untuk tanda tangan surat itu ditempel materai 10 ribu. Karena saya tidak bisa menulis tidak bisa membaca disertai dengan kejadian begini saya langsung tanda tangan. Mereka tidak bacakan surat itu. Anak saya juga ada, tapi tidak baca lagi apa isi surat itu langsung tanda tangan. Setelah itu baru saya tahu kalau surat itu isinya tolak autopsi,” ungkapnya.

Hal yang sama pun disampaikan sang kakak, Lukas Kadi Baga.

Dirinya mengakui kalau ia juga turut menandatangi surat tersebut tanpa membaca isi surat tersebut.

Sebut Ada Kejanggalan

Dirinya melanjutkan selain kejanggalan soal surat, kematian sang adik Yulius pun ungkapnya perlu didalami.

Pasalnya, saat kejadian dirinya bersama keluarga tidak mengetahui persis kejadian yang menewaskan alm Yulius.

Malah, keluarga baru mengetahuinya setelah jenazah alm sudah berada di RS Karitas, Weetabula.

“Awalnya bilang jatuh dari motor lah, bilang tabrakan lah cuma tidak jelas. Sehingga kami putuskan ke RS Caritas setelah sebelumnya bertemu Sekdes Mandungo. Kenapa teman kerjanya almarhun adik saya ini langsung mengantarnya ke rumah sakit, harusnya kami pihak keluarga dapat dia dulu digudang dalam keadaan seperti apapun, nah kami kaget adik saya sudah langsung dikamar mayat. Kami tidak bisa buat apa-apa karena kami sangat bingung waktu itu,” katanya penuh tanya.

Dirinya pun meminta aparat untuk menelusuri kembali kematian sang adik agar kasusnya bisa menjadi terang benderang.***

Terima Kasih sudah membaca berita/artikel kami. Terus dukung kami dengan cara berdonasi ke Rek Bank NTT: 2513684625