Ironisnya, saat dikonfirmasi, Sekretaris DPRD Sikka, Gratiana A. Herianje, mengakui kelalaian tersebut.

“Hari ini kami sibuk dari pagi karena persiapan rapat paripurna, jadi lupa untuk pasang bendera,” ujarnya singkat.

">

Sementara itu, Ketua DPRD Sikka, Stefanus Sumandi, memilih bungkam saat ditanya wartawan mengenai tiadanya bendera yang seharusnya berkibar di tiang utama kantor dewan.

Kondisi ini terpantau jelas oleh awak media yang meliput jalannya rapat, serta bertepatan dengan aksi demonstrasi dari Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) yang juga hadir di lokasi.

Tiang bendera terlihat berdiri kosong, tanpa Merah Putih berkibar, menjadi simbol kelalaian yang tak seharusnya terjadi di institusi yang seharusnya menjadi teladan kepatuhan terhadap hukum negara.

Peristiwa ini menjadi tamparan keras bagi DPRD Sikka dan menimbulkan pertanyaan besar: bagaimana bisa simbol negara yang sakral diabaikan dalam momentum resmi seperti sidang paripurna?***

Terima Kasih sudah membaca berita/artikel kami. Terus dukung kami dengan cara berdonasi ke Rek Bank NTT: 2513684625