NTTKreatif.com, Larantuka — Koalisi Kopi Flotim meminta rencana pengembangan proyek strategis geotermal terlebih dahulu disosialisasikan secara terbuka kepada masyarakat.

Sosialisasi tersebut dinilai penting agar masyarakat memperoleh informasi yang utuh mengenai rencana pembangunan, manfaat, potensi risiko, serta dampak lingkungan yang mungkin ditimbulkan.

Demikian disampaikan Anggota Koalisi Kopi Flotim, Alfonsia Nogo kepada wartawan, Rabu, 16 September 2026 tadi.

Alfonsia Nogo mengatakan masyarakat harus menjadi pihak yang dilibatkan secara langsung dalam setiap pembahasan terkait proyek geotermal.

Menurut dia, masyarakat yang tinggal di sekitar wilayah proyek merupakan pihak yang akan merasakan secara langsung berbagai dampak dari keberadaan proyek tersebut.

“Tanggapan saya, yang harus dilibatkan itu masyarakat itu sendiri karena mereka sendiri yang akan merasakan dampaknya, baik positif maupun negatif,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pengembangan energi geotermal pada dasarnya memiliki potensi memberikan manfaat bagi masyarakat, terutama dalam penyediaan energi terbarukan.

Pemanfaatan energi panas bumi dapat digunakan untuk menghasilkan listrik dan mendukung kebutuhan energi.

Namun, menurut Alfonsia, manfaat tersebut perlu dibicarakan secara berimbang dengan potensi dampak terhadap lingkungan dan kehidupan masyarakat di sekitar wilayah proyek.

“Dampak positif, gas bumi yang dihasilkan akan memberikan energi terbarukan, bisa menghasilkan listrik, tetapi juga dapat menyebabkan pencemaran lingkungan, udara, dapat juga merusak mata air di situ,” katanya.

Karena itu, Alfonsia menilai sosialisasi tidak cukup hanya dilakukan secara formal. Pemerintah maupun pihak yang berkepentingan dengan proyek tersebut perlu membuka ruang dialog bersama kelompok masyarakat sehingga berbagai kekhawatiran dan masukan dapat disampaikan secara langsung.

“Maka paling penting adalah sosialisasi, duduk bersama kelompok masyarakat,” tegasnya.

Menurut dia, keterbukaan informasi menjadi salah satu hal penting sebelum proyek tersebut berjalan lebih jauh. Masyarakat perlu mengetahui secara jelas wilayah yang terdampak, tahapan pembangunan, teknologi yang digunakan, potensi perubahan terhadap lingkungan, serta langkah-langkah pencegahan dan penanganan apabila terjadi dampak negatif.

Alfonsia menyampaikan pandangannya tersebut dalam konteks persoalan lingkungan yang belakangan terus menjadi perhatian, baik di tingkat lokal, nasional maupun internasional.

Ia mengatakan, persoalan lingkungan di daerah saat ini dapat dilihat dari sejumlah fenomena, seperti suhu panas yang berkepanjangan, gagal panen, kekeringan hingga kebakaran hutan.

Selain itu, pencemaran lingkungan juga menjadi persoalan yang perlu mendapatkan perhatian serius, baik di wilayah daratan maupun perairan.

“Yang lokal ini panas berkepanjangan, gagal panen, kekeringan, kebakaran hutan, pencemaran lingkungan baik di darat maupun di laut,” imbuhnya.

Menurut Alfonsia, berbagai persoalan tersebut menunjukkan bahwa pembangunan dan pemanfaatan sumber daya alam perlu mempertimbangkan keberlanjutan lingkungan serta kepentingan masyarakat. Ia menilai pembangunan energi terbarukan tetap penting, tetapi pelaksanaannya harus memperhatikan kondisi ekologis dan kehidupan masyarakat setempat.

Pada tingkat internasional, lanjut Alfonsia, persoalan lingkungan juga terus menjadi perhatian dunia. Salah satu isu yang disebutnya adalah kebakaran hutan di Kalimantan yang menurutnya menjadi bagian dari persoalan lingkungan yang perlu mendapat perhatian.***