NTTKreatif.com, Waikabubak – Kasus penembakan terhadap terduga pelaku pencurian ternak berinisial JT oleh oknum anggota Polres Sumba Barat meninggalkan duka mendalam buat keluarga.
Pasalnya, penembakan tersebut dinilai tidak memberikan rasa keadilan buat keluarga. Tidak heran jika keluarga melalui kakak JT, Dapa Rowa meminta oknum anggota Polres Sumba Barat yang melakukan penembakan terhadap adiknya di Kampung Waimakapal, Desa Bali Ledo, Kecamatan Loli, Sumba Barat bisa diproses sesuai hukum yang berlaku.
“Kami keluarga sudah kehilangan almahrum selama-lamanya. Dan kami keluarga minta agar oknum pelaku yang menghilangkan nyawa adik kami, harus diproses hukum agar memberi rasa keadilan bagi kami. Kami ingin harus ada rasa keadilan bagi keluarga ini. Dia sudah meninggalkan kami selama-lamanya. Dan harus ada yang bertanggungjawab nyata dan bukan sekedar omong saja,” tegas Dapa Rowa.
Ia berharap Bapa Kapolres Sumba Barat, Yohanis Nisa Pewali sungguh-sungguh memahami isi hati keluarga korban sekaligus memberikan rasa keadilan di mata hukum.
“Sebagai negara hukum, siapapun yang melakukan kesalahan maka harus diproses sesuai hukum yang berlaku dan bukan sebaliknya menghilangkan nyawa seseorang selamanya. Untuk itu, dari lubuk hati paling dalam, kami meminta siapa pun oknum anggota kepolisian Polres Sumba Barat yang diduga melakukan penembakan hingga menewaskan Jowa Tana harus diproses hukum hingga tuntas agar dapat menghadirkan rasa keadilan bagi keluarga korban,” tegasnya kembali.
Terpisah, Kapolres Sumba Barat, AKBP Yohanis Nisa Pewali menyebut kalau pihaknya memberikan kesempatan kepada keluarga korban untuk melaporkan anggota Polres Sumba Barat yang diduga menyalahi prosedur hingga menyebabkan korban meninggal dunia.
“Sebagai pimpinan Polres Sumba Barat siap memprosesnya sesuai ketentuan yang berlaku,” ujarnya.
Kronologi Kejadian
Kasus ini sendiri bermula kasus penembakan oknum polisi terhadap salah seorang warga asal Baledo, Kecamatan Loli, Kabupaten Sumba Barat berinisial JT yang terlibat dalam kasus pencurian hewan dengan kekerasan, Senin, 15 September 2026 tadi.
JT sendiri diduga ditembak polisi setelah berusaha melarikan diri dari kejaran polisi yang ingin menciduknya. Naas saat melarikan diri, JT disebut terjatuh yang membuat timah panas yang semula diarahkan ke kaki malah bersarang di bahu kanan JT.
Sempat dibawa ke Rumah Sakit, nyawa JT malah tidak tertolong. Akibatnya keluarga JT pun mengamuk. Mereka melkaukan aksi protes dengan megotong jenazah JT ke Polres Sumba Barat untuk dimintai pertanggungjawaban.
Belum sempat bertemu, aksi lempar kantor pun terjadi. Namun aksi tersebut tidak berlangsung lama setelah adanya upaya mediasi antara keluarga dan pihak Polres Sumba Barat.
Sayang, mediasi tersebut malah mengalami deadlock setelah permintaan keluarga untuk menginapkan jenazah di Mapolres Sumba Barat tidak diindahkan Kapolres Sumba Barat diikuti dengan penutupan pintu masuk lobi.
Tidak terima, massa yang berjumlah puluhan tersebut lalu berusaha merangsek masuk dengan mendorong kereta jenazah JT hingga terjadi chaos yang membuat para aparat pun harus melepaskan tembakan peringatan dan gas air mata.
Massa pun menghindar dan sebagai balasan mereka pun mulai menyerang balik Mapolres Sumba Barat dengan lemparan batu sebagaimana seperti terlihat di sejumlah video yang beredar di media sosial.
Situasi ini pun terus berlangsung hingga malam tadi dengan adanya pembakaran satu mobil polisi yang terparkir di depan RS Lende Moripa Waikabubak. Massa pun hingga kini masih berada di sekitaran Mapolres Sumba Barat yang membuat suasana Kota Waikabubak belum benar-benar pulih apalagi dari informasi yang diterima dalam peristiwa ini sudah ada lagi korban baru yang dinyatakan meninggal asal Sumba Tengah.
Polda NTT Minta Tetap Tenang
Terpisah, Kabid Humas Polda NTT, Kombes Pol. Henry Novika Chandra dalam keterangan di laman resmi Polda NTT menyatakan bahwa langkah hukum yang diambil merupakan bentuk ketegasan polisi demi mengembalikan rasa aman masyarakat.
“Penindakan tegas terukur ini menjadi momentum penting bagi kepolisian untuk menegakkan hukum secara objektif, transparan, dan profesional demi mengembalikan rasa aman serta ketenteraman di tengah masyarakat,” ujar Kombes Pol. Henry Novika Chandra.
Ia pun mewakili Polda NTT menyampaikan rasa duka cita yang mendalam kepada keluarga almarhum J.T.
”Kami meminta bantuan kepada seluruh lapisan masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, serta pihak keluarga untuk tetap tenang, tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang tidak benar, dan bersama-sama menciptakan suasana yang menyejukkan. Percayakan seluruh proses penanganan hukum ini secara transparan kepada pihak Kepolisian,” pungkas Kombes Pol. Henry Novika Chandra.***
