NTTKreatif.com, Tambolaka – Hingga 13 September 2026, Sumba Barat Daya memang masih mencatat adanya 399 kasus malaria, namun angka tersebut sudah mengalami penurunan sejak Mei lalu.

Tidak heran jika kini Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) bersama Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Timur dan UNICEF terus memperkuat langkah percepatan eliminasi malaria untuk mencapai target nol Malaria di tahun 2028 mendatang.

Salah satunya dengan menggelar Workshop Penguatan Strategi untuk Mencapai Eliminasi Malaria di Kabupaten Sumba Barat Daya 2026.

Kegiatan tersebut digelar di Resto Dapur Sumba, Tambolaka, Rabu, 16 September 2026 kemarin dan dibuka langsung oleh Sekda SBD, Etmundus N Nau.

Hadir dalam kesempatan itu, perwakilan Dinas Kesehatan Provinsi NTT dan Kabupaten SBD, BAPPERIDA, DPMD, Puskesmas, rumah sakit, pemerintah kecamatan, Klinik Sumba Foundation, PERDHAKI, media, serta unsur pendukung lainnya.

Dalam arahannya, Sekda SBD, Etmundus N Nau menegaskan bahwa kemajuan dalam upaya percepatan eliminasi malaria itu memang patut diapresiasi, namun hal tersebut tidak kemudian menghilangkan kerja kolaboratif untuk memutus sisa penularan malaria di wilayah tersebut.

Ia mendorong agar workshop yang digelar tersebut bisa menyepakati langkah operasional sampai akhir tahun 2026 dengan fokus pada wilayah prioritas, target pemeriksaan dan respons, pembagian peran lintas sektor, serta mekanisme pemantauan menuju nol kasus malaria lokal.

“Workshop ini tidak boleh hanya menjadi forum untuk memaparkan data. Workshop harus menjadi forum pengambilan keputusan untuk menyepakati langkah operasional sampai akhir tahun 2026: wilayah prioritas, target pemeriksaan dan respons, pembagian peran lintas sektor, serta mekanisme pemantauan menuju nol kasus malaria lokal,” katanya.

Sekda Etmundus juga menekankan pentingnya bulan September hingga Oktober 2026 sebagai bulan untuk mempertahankan surveilans intensif, memperluas pemeriksaan malaria sesuai stratifikasi risiko, menuntaskan penyelidikan epidemiologi dan survei kontak, memastikan respons cepat pada desa dengan penularan aktif, serta menyelesaikan siklus kedua surveilans vektor sebelum memasuki periode peningkatan risiko penularan.

“Mari kita manfaatkan forum ini untuk mengubah data menjadi tindakan, tindakan menjadi hasil, dan hasil menjadi nol kasus lokal malaria,” tegasnya kembali.

Ia pun tidak lupa meminta agar hasil workshop tidak berhenti pada rekomendasi umum. RTL harus memiliki lokasi prioritas, target, jadwal, penanggung jawab, serta mekanisme pemantauan yang jelas.

“Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya sendiri punya komitmen untuk terus mendukung surveilans, diagnosis, respons kasus, pengendalian vektor, kader, dan pemberdayaan masyarakat. Kolaborasi semakin kuat, strategi semakin tepat, dampak semakin besar, eliminasi malaria semakin dekat akan mempercepat pencapaian nol kasus lokal sebagai langkah penting menuju eliminasi malaria di Kabupaten Sumba Barat Daya dan mendukung target NTT Bebas Malaria Tahun 2028,” pesannya.

UNICEF Beri Dukungan Penuh

Dalam pengantar kegiatan, UNICEF menyampaikan apresiasi atas komitmen kuat Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya dalam percepatan eliminasi malaria.

Komitmen tersebut telah dituangkan melalui RPJMD, Peraturan Bupati tentang Eliminasi Malaria Nomor 1 Tahun 2022 dan diperkuat dengan Instruksi Bupati Nomor 1 Tahun 2025 tentang Percepatan Eliminasi Malaria.

Komitmen kebijakan tersebut kemudian telah diterjemahkan menjadi tindakan nyata, salah satunya melalui GEMAS (Gebrak Malaria Sehari) yang mulai diimplementasikan sejak September 2025 dan terus dikembangkan hingga GEMAS Merdeka pada Agustus 2026.

GEMAS menjadi salah satu inovasi daerah yang memperkuat kolaborasi lintas sektor hingga tingkat kecamatan dan desa serta mendorong keterlibatan aktif masyarakat.

Kekuatan program juga terlihat dari surveilans yang semakin intensif, dengan ABER mencapai sekitar 69 persen hingga September 2026. Pengendalian vektor telah dilakukan secara luas, dengan 1.985 habitat telah diintervensi.

“Sepanjang Januari–14 September 2026, tren kasus malaria juga berada di bawah pola historis maksimum–minimum periode 2018–2025, dengan Mei mencatat 14 kasus sebagai jumlah bulanan terendah sepanjang 2026,” ungkap perwakilan UNICEF.

Kendati mencatatkan penurunan namun UNICEF mengingatkan semua pihak untuk tidak boleh lengah. Perlu ada upaya sedini mungkin untuk melakukan pemutusan penularan lokal guna mencapai target nol malaria di tahun 2028 nanti.

“Kasus cenderung meningkat mulai September hingga Januari, sehingga September–Oktober menjadi periode kritis untuk memperkuat penemuan kasus, respons fokus, pengendalian vektor, dan intervensi lainnya. Sehingga Workshop ini menjadi momentum untuk memperkuat dan menajamkan strategi yang telah berjalan, bukan memulai dari awal,” ungkap perwakilan Unicef lagi.

Workshop ini pun dilaksanakan secara partisipatif, berbasis data, dan berorientasi pada pemecahan masalah serta pengambilan keputusan. Pembahasan mencakup situasi epidemiologi, wilayah fokus, surveilans dan respons kasus, pengendalian vektor, penggerakan masyarakat, serta penguatan dukungan lintas sektor.

Hasilnya, sejumlah Rencana Tindak Lanjut (RTL) yang konkret dan terukur, dengan prioritas pada pelaksanaan GEMAS di wilayah fokus, penguatan penggunaan dan monitoring kelambu hingga tingkat rumah tangga, Pengendalian Vektor Siklus II pada September–Oktober 2026, serta penguatan keberlanjutan pembiayaan program malaria tahun 2027 pun berhasil dirancang. ***