Ia lebih memilih untuk tetap di lokasi pengungsian.
Apalagi, di tempat itu dirinya ditemani banyak keluarga dan juga warga lainnya yang berasal dari desa lain yang juga turut terdampak erupsi.
“Untuk aktivitas kami iya begini-begini saja. Tidak ada sesuatu yang luar biasa yang kami buat. Kalau di kampung iya kami masih bisa ke kebun tapi disini hanya begini saja. Duduk, bangun, tidur, makan,” katanya lirih.
Namun demikian, diakuinya selama ia berada di pengungsian dirinya tidak pernah kesulitan atau pun terlambat makan.
Pihak pengelola poslap Lewoingu sebutnya selalu memberikan perhatian buat mereka bahkan jam makan mereka katanya lagi tidak pernah terlambat berjam-jam.
“Di sini makan tiga kali pagi jam 8, siang jam 12 atau setengah 1, malam itu setengah 7,” katanya lagi.
Rindu Bertemu Presiden Prabowo

Walaupun begitu, ada kerinduan Magdalena yang belum terwujud.
Saat banyak pengungsi sudah dikunjungi Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka beberapa waktu lalu, Magdalena malah sebaliknya.
Dirinya gagal bertemu dengan orang nomor dua di republik itu.
“Waktu itu memang beliau datang. Tapi kami lansia tidak sempat lihat karena kami di dalam ruangan. Saya menyesal betul saat itu,” ujarnya lirih.
Sehingga saat ada informasi soal rencana kehadiran Presiden Prabowo Subianto, Magdalena dengan wajah memelas begitu berharap nantinya bisa melihat Presiden Prabowo.
Saat ditanya permintaan apa yang ia bakal minta jika nanti bertemu Presiden Prabowo, Magdalena terlihat malu-malu.
Namun ia kemudian menyebut agar nantinya penghidupan mereka bisa diperhatikan oleh pemerintah pasca erupsi ini.
“Saya hanya mau kami semua ini nanti diberi perhatian. Tidak ada yang lain,” ujarnya. ***
|

Tinggalkan Balasan