NTTKREATIF, SBD – Pilkada Sumba Barat Daya (SBD), Provinsi NTT bakal dihelat sebentar lagi.

Namun geliatnya makin ke sini makin menarik untuk ditelisik lebih jauh.

">

Pasalnya, Pilkada SBD di masa lalu meninggalkan cerita yang tidak habis untuk dibahas bahkan masih terekam di pikiran masyarakat hingga kini.

Bagaimana tidak, di masa lalu Pilkada SBD pernah mencatatkan tinta merah bahkan sampai harus memakan korban.

Tidak hanya korban jiwa, Pilkada SBD di tahun 2013 itu lantas membuat Kantor KPU Kabupaten Sumba Barat Daya jadi korban keganasan si jago merah akibat dibakar.

Beruntung hal tersebut tidak terulang di tahun 2019 silam kala dr Kornelius Kodi Mete dan Markus Dairo Talu kembali bertarung di Pilkada SBD.

Semua menjadi aman tanpa ada protes yang berlebihan. Kondisi ini pun membuat Kabupaten Sumba Barat Daya kembali ke zona hijau Pemilu.

Perjuangan yang tidak mudah tentunya. Apalagi bicara dalam konteks politik. Berusaha memperbaiki yang kurang itu butuh waktu dan energi.

Lembaran baru itu pun sudah dibuka dengan cerita baru yang lebih baik.

Tidak perlu lagi ada kisah lain selain keindahan sebagai satu saudara Loda Wee Maringi, Pada Wee Malala.

Mari belajar dari pengalaman di masa silam. Tidak perlu mengulangi lagi pengalaman kelam itu.

Toh berebut kursi hanya sebentar, setelahnya kita hanyalah bagian dari perjuangan itu.

Jangan mudah terpancing apalagi membenci. Politik itu soal kepentingan. Setelah kepentingan itu selesai kita hanya masyarakat biasa.

Fanatik boleh tapi jangan lupa diri. Masa depan masih panjang. Sumba Barat Daya butuh kita dan menunggu kedewasaan kita dalam berpolitik.

Toh siapapun yang duduk nantinya mereka adalah Bupati dan Wakil Bupati kita. ***

 

 

 

Terima Kasih sudah membaca berita/artikel kami. Terus dukung kami dengan cara berdonasi ke Rek Bank NTT: 2513684625