Selain itu, manajemen juga menerima tambahan dana dari Bank NTT sebesar Rp10 juta.
“Jadi total dana yang kami bawa saat itu hanya Rp50 juta. Sementara sisa anggaran sebesar Rp95 juta kemudian diserahkan oleh Askab ke manajemen untuk panjar honor pemain dan pelatih,” lanjut Vicky.
Meski begitu, ia mengungkapkan bahwa masih ada tunggakan honor sebesar Rp2 juta per pemain serta Rp11 juta masing-masing untuk direktur teknik, pelatih kepala, dan asisten pelatih. Sebelumnya, manajemen juga telah membagikan bonus sebesar Rp25 juta setelah tim lolos ke babak delapan besar dan semifinal.
Di tengah proses penyusunan LPJ, hubungan antara manajemen Perseftim dan Askab kian memanas. Vicky menilai bahwa Ketua Askab terlalu mencampuri urusan teknis yang seharusnya menjadi wewenang manajemen tim.
Konflik semakin meruncing setelah Askab memberhentikan Vicky Betan, Nikolaus Beoang, dan sejumlah pengurus manajemen tanpa alasan yang jelas. Mereka tidak lagi dilibatkan dalam persiapan tim menuju Seri Nasional di Yogyakarta pada 21 April mendatang.
Kendati demikian, Vicky kembali menegaskan komitmennya untuk tetap menyelesaikan laporan pertanggungjawaban secara transparan dan profesional.
“Soal LPJ akan kami serahkan secepatnya. Setelah semua upaya yang kami lakukan untuk membawa Perseftim kembali berjaya usai 15 tahun tanpa prestasi, kami justru tidak dihargai. Ini sangat menyakitkan,” pungkas Vicky. *(Ell)
|
