NTTKreatif, LARANTUKA — Mantan Manajer Teknis Perseftim Flores Timur, Vicky Betan, akhirnya angkat bicara terkait laporan pertanggungjawaban (LPJ) tim usai mengikuti turnamen sepak bola bergengsi ETMC XXXIII di Kupang.

Salah satu tokoh kunci di balik keberhasilan Perseftim meraih peringkat ketiga setelah 15 tahun tanpa prestasi itu memastikan bahwa laporan akan segera diserahkan kepada Asosiasi Kabupaten (Askab) PSSI Flores Timur.

">

Pernyataan tersebut disampaikan untuk menjawab desakan Ketua Askab, Jhon Kopong, yang sebelumnya mengungkapkan bahwa hingga kini pihaknya belum menerima LPJ dari manajemen, padahal turnamen telah berakhir pada 24 Maret 2025.

“Intinya, manajemen Perseftim Kupang selalu siap menyampaikan laporan keuangan. Hanya saja, karena libur Idulfitri dan kepulangan kami ke Larantuka yang baru beberapa hari lalu, penyusunan laporan sedikit tertunda,” ujar Vicky kepada wartawan, Rabu (9/4).

Menurut Vicky, keterlambatan itu juga disebabkan oleh proses administrasi yang melibatkan para pemain Perseftim yang tersebar di wilayah daratan Flores Timur, Solor, dan Adonara. Beberapa di antaranya belum menandatangani bukti penerimaan honor dan bonus, yang menjadi bagian dari kelengkapan laporan.

“Sudah belasan pemain yang menandatangani tanda terima. Kami harap besok laporan ini sudah bisa kami serahkan ke asosiasi,” tambahnya.

Terkait klaim Ketua Askab yang menyebut dana manajemen mencapai Rp358 juta, Vicky membantah angka tersebut dan membeberkan secara gamblang rincian dukungan dana yang dikelola manajemen selama ETMC XXXIII di Kupang.

“Bantuan dari pihak ketiga berjumlah Rp78.000.000, ditambah dana APBD melalui KONI Flotim sebesar Rp190.000.000. Dari jumlah tersebut, hanya Rp40 juta yang diterima langsung oleh manajemen saat keberangkatan ke Kupang. Sisanya, sebesar Rp150 juta, berada di rekening Ketua Askab,” jelasnya.

Selain itu, manajemen juga menerima tambahan dana dari Bank NTT sebesar Rp10 juta.

“Jadi total dana yang kami bawa saat itu hanya Rp50 juta. Sementara sisa anggaran sebesar Rp95 juta kemudian diserahkan oleh Askab ke manajemen untuk panjar honor pemain dan pelatih,” lanjut Vicky.

Meski begitu, ia mengungkapkan bahwa masih ada tunggakan honor sebesar Rp2 juta per pemain serta Rp11 juta masing-masing untuk direktur teknik, pelatih kepala, dan asisten pelatih. Sebelumnya, manajemen juga telah membagikan bonus sebesar Rp25 juta setelah tim lolos ke babak delapan besar dan semifinal.

Di tengah proses penyusunan LPJ, hubungan antara manajemen Perseftim dan Askab kian memanas. Vicky menilai bahwa Ketua Askab terlalu mencampuri urusan teknis yang seharusnya menjadi wewenang manajemen tim.

Konflik semakin meruncing setelah Askab memberhentikan Vicky Betan, Nikolaus Beoang, dan sejumlah pengurus manajemen tanpa alasan yang jelas. Mereka tidak lagi dilibatkan dalam persiapan tim menuju Seri Nasional di Yogyakarta pada 21 April mendatang.

Kendati demikian, Vicky kembali menegaskan komitmennya untuk tetap menyelesaikan laporan pertanggungjawaban secara transparan dan profesional.

“Soal LPJ akan kami serahkan secepatnya. Setelah semua upaya yang kami lakukan untuk membawa Perseftim kembali berjaya usai 15 tahun tanpa prestasi, kami justru tidak dihargai. Ini sangat menyakitkan,” pungkas Vicky. *(Ell)

Terima Kasih sudah membaca berita/artikel kami. Terus dukung kami dengan cara berdonasi ke Rek Bank NTT: 2513684625