NTTKreatif.com, Tambolaka – Program Nasional Bioetanol menjadi salah satu program nasional strategis yang dikembangkan oleh Pemerintah Nasional melalui Kementerian Pertanian (Kementan). Sejumlah wilayah di Indonesia pun masuk menjadi sasaran program tersebut termasuk Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD).

Di wilayah tersebut, rencananya Pemkab Sumba Barat Daya akan fokus pada dua komiditi utama yakni Ubi Kayu dan Jagung.

Untuk memastikan hal tersebut bisa berjalan sesuai harapan, maka belum lama ini, Pemkab SBD resmi menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) Gerakan Tanam Jagung dan Ubi Kayu untuk Dukungan Program Energi Terbarukan (Bioetanol).

Rakor ini sendiri dibuka langsung oleh Bupati SBD, Ratu Wulla Talu dan dihadiri oleh jajaran Forkopimda, di antaranya Perwakilan Polres Sumba Barat Daya Perwakilan Dandim 1629 Sumba Barat Daya, para pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), para camat, kepala desa, serta koordinator dan penyuluh pertanian se-Kabupaten Sumba Barat Daya.

Dalam sambutannya, Bupati Wulla Talu menjelaskan bahwa rakor ini merupakan langkah konkrit serta tindak lanjut dari hasil pertemuan dan koordinasi bersama Menteri Pertanian Republik Indonesia di Jakarta pada 21 September 2026 lalu.

Pertemuan tersebut membahas peluang strategis bagi Kabupaten Sumba Barat Daya untuk dilibatkan langsung dalam program energi terbarukan berbasis bahan baku bioetanol yang bersumber dari jagung dan ubi kayu.

“Pemerintah pusat memberikan kepercayaan kepada Sumba Barat Daya untuk menjadi salah satu pilar pendukung kedaulatan energi nasional. Potensi lahan dan komoditas unggulan kita kini tidak hanya menopang ketahanan pangan lokal, tetapi juga dituntut untuk memenuhi pasokan bahan baku industri energi terbarukan,” ujar Bupati Ratu.

Selain jagung dan ubi kayu, Bupati wanita pertama di Sumba Barat Daya ini juga menyoroti potensi komoditas lokal lain yang melimpah, yakni buah jambu mete. Selama ini, masyarakat umumnya hanya memanfaatkan biji atau kacang metenya saja, sementara daging buahnya sering terbuang menjadi limbah.

Menurut Bupati Ratu secara teknis, buah jambu mete memiliki kandungan gula reduksi dan karbohidrat yang tinggi, sehingga sangat potensial diolah sebagai bahan baku bioetanol. Jika diintegrasikan bersama jagung dan ubi kayu, petani akan mendapatkan nilai tambah ganda dari hasil penjualan kacang mete sekaligus pemanfaatan daging buahnya.

Ia juga tidak lupa meminta Para camat dan kepala desa untuk membantu mengidentifikasi potensi lahan produktif maupun lahan tidur di wilayah masing-masing.

“Selain itu, Tim kerja dan penyuluh pertanian tolong memberikan pendampingan intensif kepada petani, mulai dari penyediaan bibit, pola tanam, pemeliharaan, hingga penanganan pascapanen agar memenuhi standar industri selain kita harus membangun sinergi dan dukungan dari TNI dan POLRI,” tegasnya.***