Menurutnya, ritual Purung Taliang Marapu adalah sebuah ritual yang secara turun temurun oleh nenek moyangnya yang akan melibatkan 5 Kabisu.
5 Kabisu tersebut adalah Kabisu Awanang, Kabisu Deri, Kabisu Raiyaka, Kabisu Tokang dan Kabisu Lagu. 5 Kabisu ini sendiri punya tugas masing-masing mulai dari kabisu sulung hingga kabisu yang bertugas untuk menggerakkan orang hadir dalam ritual itu.
Ritual ini disebutnya selalu dijalankan sama setiap tahunnya dengan dimulai pada tanggal 20 september yang dibuka dengan pertemuan secara bersama sekaligus memastikan apakah di ritual kali ini ada hal baru yang terjadi yang perlu diubah seperti istri kabisu yang sudah melewati masa percobaan untuk diijinkan membawa makanan persembahan kepada marapu di gua tempat dibuat acara puncak.
Ritual ini pun lanjutnya akan dilanjutkan dengan tujak yang kabisu deri dan kabisu raiyaka saling mengantar ayam dan kawadak sebagai tanda kesediaan masing-masing untuk menjalankan tugas dalam ritual tersebut.
Ayam itu pun nantinya akan dikurbankan pada hari ke 4 setelah kabisu deri menjalankan tugas berjaga selama 4 hari lamanya.
“Selama berjaga tidak ada anjing yang menjalak. Usai itu barulah 5 rato yang ada di kampung ini secara bersama-sama memberikan orang yang berjaga sirih pinang sebelum nanti melanjutkan denga proses naik ke rumah Kabisu Awanang sebagai sulung sebelum nanti akan ada masa berjaga lagi selama 4 hari ke depannya,”katanya.
Usai tahapan itu dibuat, sebutnya lagi pihaknya lalu menggelar urata selama 8 hari 8 malam dengan ada pembasuhan tongkat keramat oleh salah satu rato sekaligus di masa itu sekitar tanggal 1-6 Oktober masing-masing rumah kebun akan dibuatkan ritual khusus memberikan makan leluhur sebagai tanda persiapan sebelum hari puncak.
Di moment ini ungkapnya semua warga diwajibkan untuk memberi makan leluhur dengan menyiapkan ayam yang hidup. Tidak hanya orang dewasa. Anak-anak pun demikian.
“Tanggal 7 kita mulai mengaku dosa sudah. Semua yang buruk kita sebutkan smuanya supaya kita bisa jalankan ritual besok itu dengan baik. Malamnya baru para perempuan menari reja sudah sebagai bentuk kegembiraan karena besok kita akan melakukan proses perjalanan ke hutan untuk memandikan batu kilat,”katanya.
Dilanjutkannya, untuk perjalanan ke hutan sendiri tentu tidak berjalan begitu saja tapi didahului dengan ritual seperti salah satu rato yang disulubungkan kain hitam yang diyakini memegang semua hal yang keramat termasuk batu petir.
Perjalanan pun dimulai. Banyak warga ikut di dalamya tidak hanya 5 kabisu, 8 desa yang ada disekitar kampung pun ikut ambil bagian didalam ritual itu. Bahkan di perjalanan itu tidak ada satupun yang melakukan hal yang sembarang apalagi mengganggu rato.
“Intinya di sana kita ada buat beberapa kali ritual termasuk buang sirih pinang dalam air di gua sebagai bagian uji nasib masing-masing rumah. Pengujian ini gunakan sebatang sirih dan satu buah pinang yang dilengkapi dengan irisan kawadak (emas). Kalau seandainya buang sirih atau pinang tenggelam maka kita baik-baik saja termasuk pengakuan kemarin itu sudah diampuni. Kalau memang ada yang terapung maka kita yang hadir harus lakukan lagi ritual agar semuanya aman. Dan itu butuh waktu lagi,”katanya.
Ritual ini sendiri sebutnya belum berakhir karena sekembalinya dari sana akan digelar lagi ritual di beberapa rumah kabisu selama 16 hari ke depannya sampai akhirnya ditutup dengan ritual tutup kampung. Ritual ini sendiri sebutnya masih dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur nenek moyangnya.
Hal ini dirasa wajar apalagi jika kita berkaca pada realita masyarakat yang masih menganut sistem kepercayaan marapu. ***
|

Tinggalkan Balasan