Sayang pengakuan itu malah dibantah oleh koordinator daerah, Takjudin yang menyebut kalau pihaknya tidak pernah memungut sepersen uang dari masyarakat. Dirinya malah kaget saat mengetahui adanya informasi tersebut.
“Kami tidak pernah minta uang. Itu sukarela warga sendiri tapi bukan untuk program penghapusan utang bank tapi ada satu program lain,” ungkap Takjudin yang sehari-hari bekerja sebagai penjual tahu.
Hal yang sama pun disampaikan oleh Ahmad Anton yang ditemui terpisah, Rabu sore kemarin. Ahmad yang belakangan disebut sebagai perekrut Takjudin itu menyebut kalau persoalan yang terjadi di SBD bukanlah tanggung jawab dirinya.
“Saya tidak tahu kalau itu (pungli) itu. Saya di wilayah Bima soal itu kan ada koordinator SBD. Silahkan cross check ke beliau. Soal rekrut iya, saya rekrut tapi kan kita sebatas membantu,” ungkapnya.
Saat ditanya soal legalitas dan ijin operasionalnya di wilayah SBD, Ahmad Anton terlihat kelimpungan menjawab malah terkesan menghindar dan lebih memilih melimpahkannya kepada pengurus di Kabupaten dan Provinsi.
“Silahkan tanyakan langsung ke Provinsi atau Kabupaten karena sedianya ini program mereka program pemerintah. Sedangkan kami ini hanya membantu kerja pemerintah. Soal realisasi bantuan itu kan berproses. Kalau terkabulkan iya syukur kalau tidak mau bagiamana lagi,” ungkapnya. ***
|
