NTTKreatif.com, Tambolaka – Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD), NTT adalah salah satu Kabupaten di NTT yang perlahan namun pasti menunjukkan potensi yang luar biasa.

Salah satu yang paling menonjol adalah pariwisata. Tidak heran jika tingkat kunjungan di wilayah tersebut setiap harinya terus meningkat seiring berjalannya Waktu.

Para wisatawan baik local maupun mancanegara pun silih berganti mengunjungi wilayah itu hanya untuk menikmati keindahan alam Sumba yang demikian eksotisnya.

Laguna Weeekuri, Pantai Mananga Aba, Kampung Adat Ratenggaro, Bukit LDR adalah deretan tempat wisata yang kini menjadi favorit wisatawan yang membuatnya semakin mendunia. Itu belum termasuk atraksi budaya, Pasola yang menambah potensi SBD.

Sayangnya, kekuatan tersebut belum dioptimalkan dengan baik. Banyak tempat wisata yang belum ditata dengan baik yang berdampak pada pertumbuhan ekonomi yang lambat.

Selain itu, sumber daya manusia pun disebut belum dimaksimalkan dengan baik untuk menyambut perubahan di sector pariwisata sebagai motornya. Padahal jika pariwisata SBD dikemas dengan baik maka kesejahteraan yang selama ini diidam-idamkan akan terwujud.

Tidak salah jika di kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati, Ratu Wulla Talu dan Dominikus A Rangga Kaka kali ini mencoba memperbaiki penataan pariwisatanya dengan menjadikan salah satu prioritas pembangunan selain Pertanian dan Peternakan.

Hal ini tentu bukan tanpa alasan, selain punya potensi besar, sector pariwisata pun bisa menjadi alternatif untuk menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD) untuk membantu Pemerintah mengatasi persoalan pemangkasan anggaran berupa TKD yang berjumlah Rp215 M.

Kondisi yang mengharuskan Pemerintah Daerah untuk memutar otak mencari tambahan dana lain untuk membangun infrastruktur di daerah tersebut.

Selain itu, dengan bertambahnya maskapai penerbangan yang membuka rute penerbangan di Sumba Barat Daya tentu menjadi sebuah nilai plus yang harus bisa dimanfaatkan dengan baik demi menarik para wisatawan untuk terus menjadikan Sumba khususnya SBD menjadi salah satu destinasi unggulan di NTT.

Sumba Masa Depan

Kekuatan pariwisata yang demikian pun diakui oleh Bupati SBD, Ratu Wulla Talu yang dalam setiap kesempatan selalu mempromosikan keunggulan daerahnya.

Baginya narasi Bali Masa Lalu, Labuan Bajo masa kini dan Sumba masa depan bukanlah pepesan kosong semata. Dia bukan hanya agidium atau mimpi pengantar tidur tapi sebuah harapan untuk semua percaya kalau pariwisata SBD memang punya potensi besar yang harus diurus dengan baik demi kemashalatan warganya sendiri.

Dan semua itu pelan-pelan dibuktikan dengan dimulainya rencana pengembangan Infrastruktur seperti penyediaan fasilitas dasar seperti akses jalan, air bersih, dan listrik dan Peningkatan Amenitas atau Ketersediaan penginapan, kuliner lokal, dan pusat cindramata di dua tempat wisata unggulan yakni Laguna Weekuri dan Pantai Mananga Aba.

Selain itu, penguatan branding dan promosi pun tidak luput dari perhatian dimana dibahas soal strategi pemasaran digital dan internasional untuk laguna Waikuri dan Pantai Mananga Aba serta Tata Kelola berkelanjutan dengan Penyusunan regulasi yang mendukung konservasi dan parawisata berbasis budaya.

Menariknya, selain menyiapkan infrastruktur, pemerintah juga tidak lupa untuk melibatkan lokal sebagai subyek utama pembangunan kepariwisataan yang selama ini selalu luput dari perhatian.

Tujuannya jelas untuk menhadirkan pariwisata lebih menyala dengan target penambahan PAD di tahun 2026 mendatang dimana untuk dua tempat wisata itu, pemerintah melalui dinas Pariwisata menargetkan PAD sebesar Rp300 juta.

Jadikan Alun-Alun Kota Tambolaka Sebagai Destinasi Wisata Baru

Menariknya, pengembangan kepariwisataan itu tidak hanya menyasar ke tempat wisata saja tapi juga ke fasilitas umum seperti Alun-Alun Kota Tambolaka untuk menjadikannya sebagai tempat destinasi baru wisata di Kabupaten Sumba Barat Daya.

Dibangun sejak 2023 lalu dengan anggaran mencapai Rp11 M lebih selama 3 tahun, alun-alun Kota Tambolaka perlahan-lahan mulai menunjukkan progres luar biasa dengan banyak perubahan yang terjadi.

Jika sebelumnya, lokasi tersebut hanya dilengkapi lapangan Galatama saja maka kini semuanya sudah berubah.

Patung kuda dan tugu tempayan dan pengerjaan fasilitas lainnya pun secara bertahap sudah dikerjakan bahkan untuk pengerjaan tahun 2025 dengan anggaran Rp3,5 M seperti lapangan voli, tempat parkir, trotoar, median, drainase, jogging track, patung kuda dan sejumlah pengerjaan lainnya sedang dikerjaan saat ini.

“Sedang dibangun dan kami pastikan bisa selesai Desember 2025 ini sehingga 2026 sudah bisa dimanfaatkan,” kata Plt Kadis PU dan Tata Ruang, Yohanis Umbu Deta kepada wartawan belum lama ini.

Diakuinya, keberadaan alun-alun Kota Tambolaka tidak hanya untuk tempat berkumpul anak muda saja tapi juga menarik minat wisatawan yang berkunjung ke sumba dengan kata lain wajah kota harus bisa menjadi representasi dari wisata daerah itu sendiri sekaligus memberikan kenyamaan buat para investor yang ingin menanamkan modalnya di daerah tersebut.

Hal ini pun diamini oleh Bupati SBD, Ratu Wulla Talu yang menyebut kalau keberadaan alun-alun Tambolaka harus jadi tonggak perubahan pembangunan di Sumba Barat Daya dengan wajah kota yang bersih dan indah sekaligus mengajak masyarakat untuk bisa hidup sehat.

Hidupkan Wisata Rohani di Natal 2025

Selain fokus ke pariwisata alam, Pemerintahan di masa Bupati Ratu Ngadu Bonnu Wulla dan Wakil Bupati, Dominikus A Rangga Kaka juga akan fokus pada pengembangan kepariwisataan religi sebagai salah satu fokus baru pembangunan.

Konsepnya dimulai dengan menjadikan natal tidak hanya sebagai hajatan tahunan saja tapi ruang untuk memperkenalkan suasana dan kehidupan rohani masyarakat Sumba Barat Daya yang memang bermayoritas Kristen itu.

“Sehingga orang bisa berpikir ke Sumba. Selain wisata alam, adat dan budaya kita juga harus menciptakan wisata religi yaitu Natal. Suasana Natal itu jadi salah satu potensi pariwisata juga sehingga kita memuaskan para turis mancanegara dan lokal agar mereka bisa mendapatkan banyak hal di sini. Konsepnya masyarakat siapkan ornamen natal di sepanjang jalan dari km9 hingga Lapangan Galatama seperti kisah 3 majus dari timur yang menyiapkan diri menyambut kelahiran Kristus,” ungkapnya kala itu. ***