NTTKreatif.com, Tambolaka – Gempa kembali mengguncang Pulau Sumba pada Minggu, 4 Oktober 2026 kemarin dengan kekuatan 6,1 magnitudo dengan parameter update 5.9 magnitudo.
BMKG mencatat pusat gempa berada di laut 14 km barat daya Kodi pada kedalaman 10 km dan tidak berpotensi tsunami, dengan pemutakhiran 59 km barat daya Kodi kedalaman 30 km akibat aktivitas Sesar Waikabubak.
Guncangan terkuat dirasakan di Kodi, Balaghar dan Kodi Bangedo dengan skala VI MMI, sementara Tambolaka, Waikabubak dan Raba IV MMI.
Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, BMKG mengategorikan peristiwa ini sebagai jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas sesar aktif yang diduga berasosiasi dengan Sesar Waikabubak.
“Hasil analisis mekanisme sumber mengindikasikan bahwa gempa bumi ini memiliki mekanisme pergerakan turun (normal fault),” kata Ardhasena di Gedung MHEWS BMKG, Minggu (4/10) lalu.
Mari Kenali Sesar Waikabubak
Lalu apa itu Sesar Waikabubak? Menurut pakar Kebencanaan, Dr Daryono Perwira Sakti dalam tulisannya yang ia share di media sosial Facebooknya menyebut kalau Pulau Sumba sebenarnya memiliki sumber gempa aktif yg penting untuk dikenali masyarakat, yaitu Sesar Waikabubak.
Sesar aktif inilah menurut dugaannya menjadi pemicu Gempa di Sumba Barat Daya yang berimbas pada kerusakan pada rumah warga.
“Sejak 2019 sesar aktif ini sudah memicu gempa signifikan di Sumba sebanyak 12 kali dalam berbagai variasi magnitude 5,0 – 5,9. Dalam Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024 yang disusun PuSGeN, sesar ini masuk sebagai sumber gempa aktif baru yg diperhitungkan dlm pemodelan bahaya gempa Indonesia,” tulisnya.
Sesar Waikabubak sendiri kata dia adalah sesar dengan mekanisme turun (normal fault). Sederhananya, kata dia ini merupakan patahan tempat satu blok batuan bergerak relatif turun terhadap blok lainnya.
“Jadi, Sesar Waikabubak bukan megathrust. Ia merupakan sumber gempa kerak dangkal di Pulau Sumba. PuSGeN juga mencatat Sesar Bondowatu sebagai sesar normal lainnya di Sumba,” terangnya.
Dikatakannya, Parameter PuSGeN 2024 menunjukkan Sesar Waikabubak memiliki panjang sekitar 232 km, bidang sesar miring sekitar 60° ke selatan, dengan slip rate sekitar 0,5 mm/tahun. Potensi magnitudo maksimumnya (Mmax) diperkirakan mencapai 7,4 magnitudo.
“Tetapi perlu digarisbawahi: 7,4 magnitudo bukan prediksi bahwa gempa sebesar itu akan segera terjadi. Mmax adalah parameter ilmiah untuk menggambarkan potensi maksimum sumber gempa dalam pemodelan bahaya. Sampai saat ini belum ada teknologi yang mampu memastikan kapan gempa akan terjadi,” tambahnya.
Karena merupakan sumber gempa kerak dangkal, kata dosen UI ini, gempa dari sesar ini dapat menghasilkan guncangan kuat di wilayah yang dekat dengan sumbernya. Dampaknya tidak hanya ditentukan magnitudo, tetapi juga kedalaman gempa, jarak terhadap sumber, kondisi tanah, dan terutama kualitas bangunan.
Karena itu, kata dia lagi keberadaan Sesar Waikabubak bukan untuk menakut-nakuti masyarakat. Justru informasi tersebut kata Daryono menjadi modal penting untuk mitigasi dengan memperkuat bangunan tahan gempa, mengenali lingkungan tempat tinggal, mengamankan perabot berat, mengetahui tempat aman, dan rutin berlatih menghadapi gempa.
“Kita tidak perlu sibuk bertanya atau menebak kapan gempa akan terjadi. Yang jauh lebih penting adalah memastikan kita sudah siap ketika gempa benar-benar terjadi. Kenali sumber gempanya, pahami risikonya, dan siapkan mitigasinya. Sesar aktif bukan untuk ditakuti, tetapi untuk dihadapi dengan ilmu pengetahuan dan kesiapsiagaan,” pesannya.***

