Kalimat itu bukan sekadar kritik. Ia adalah tamparan politik yang elegan serta memiliki makna yang mendalam.

Dalam politik, yang berbahaya bukan lawan di luar sana, tapi kesombongan di dalam diri sendiri.

">

Golkar, kata Nani, akan tetap konsisten berada di jalur konstruktif. Mendukung pemerintah, mengawal kebijakan, tapi tidak akan menutup mata terhadap kesalahan yang lahir dari arogansi kekuasaan.

“Golkar terus memposisikan diri sebagai bagian dari pemerintahan — mengawal kebijakan yang berpihak kepada masyarakat,” ujarnya, menegaskan arah politik yang dewasa.

Dan ia benar. Tak bisa disangkal, banyak tangan kader Golkar yang bekerja dalam diam selama masa Pilkada 2024 lalu — tangan-tangan yang ikut mengantarkan kemenangan Ignasius Uran, bahkan ketika partai tidak secara resmi berada di belakangnya.

“Kontribusi Golkar itu nyata. Karya-karya kader Golkar hidup di tengah masyarakat. Itu yang turut membentuk kepercayaan publik terhadap kepemimpinan hari ini,” ucapnya.

Tapi Golkar tidak menagih balas budi. Yang diingat Nani Betan bukan soal siapa berutang pada siapa, melainkan soal siapa yang masih tahu cara berterima kasih dengan sikap.

“Kalau masih mengaku diri sebagai kader, berpernyataanlah dengan santun dan beretika — apalagi sebagai pejabat publik,” tandasnya.

Sebuah pesan penutup yang terasa dingin tapi tajam. Golkar telah “move on”, dari Pesta Pilkada. Nani Betan tampaknya ingin mengingatkan satu hal: kemenangan yang telah dicapai harus dibarengi dengan kerendahan hati Karena pada waktu nya kita akan saling membutuhkan.*(Ell)

Terima Kasih sudah membaca berita/artikel kami. Terus dukung kami dengan cara berdonasi ke Rek Bank NTT: 2513684625