NTTKreatif, Larantuka – Politik, bagi sebagian orang, adalah arena adu gagasan. Tapi bagi sebagian lainnya, politik berubah menjadi panggung euforia pribadi — tempat untuk membanggakan kemenangan, seolah rakyat dan partai hanyalah penonton di pinggir jalan.
Ketua DPD II Partai Golkar Flores Timur, Yoseph Sani Betan atau lebih akrab dipanggil Nani Betan, tampaknya ingin meluruskan arah pandang itu.
Baginya, Pilkada sudah selesai. Kemenangan bukan lagi bahan pesta, tapi ujian kedewasaan.
“Kemenangan itu sudah hampir setahun berlalu. Konstelasi dan dinamika menuju kemenangan saya kira sudah selesai. Dan itulah yang selalu ditunjukkan kader Golkar tahu kapan memulai, dan kapan mengakhirinya,” ujar Nani Betan mantap.
Di tengah hiruk pikuk politik lokal yang kadang masih diramaikan oleh suara-suara emosional dari pejabat yang baru naik panggung, Golkar memilih jalan sunyi: bekerja, bukan berbicara; membangun, bukan menuding.
Nani Betan tahu persis bagaimana partainya ditempa oleh waktu. Golkar bukan partai musiman yang hidup hanya saat kampanye. Ia tumbuh bersama rakyat, menanam karya, dan memanen kepercayaan. Karena itu, Golkar tidak perlu berteriak untuk diakui.
“Sebagai kader Golkar, kita tentu bangga ada yang sukses dalam perhelatan politik, meskipun partai tidak memberi dukungan administratif,” ujarnya tenang — tapi kalimat itu terasa seperti pukulan halus bagi mereka yang cepat lupa dari mana mereka berasal.
Nani kemudian menyinggung nama Ignasius Boli Uran, kini Wakil Bupati Flores Timur.
Ia tak menafikan kiprah dan perjalanan panjangnya di bawah bendera Golkar. Dua puluh lima tahun pengabdian adalah perjalanan yang tidak bisa dihapus hanya karena selembar surat dukungan berubah arah.
Namun, di balik nada hormatnya, terselip peringatan tegas.
“Mestinya hari ini Pak Wakil harus merangkul seluruh kekuatan partai untuk bergandengan tangan membangun Flores Timur bukan justru membuat perpecahan dengan pernyataan-pernyataan yang emosional dan terkesan angkuh,” tegasnya.
Kalimat itu bukan sekadar kritik. Ia adalah tamparan politik yang elegan serta memiliki makna yang mendalam.
Dalam politik, yang berbahaya bukan lawan di luar sana, tapi kesombongan di dalam diri sendiri.
Golkar, kata Nani, akan tetap konsisten berada di jalur konstruktif. Mendukung pemerintah, mengawal kebijakan, tapi tidak akan menutup mata terhadap kesalahan yang lahir dari arogansi kekuasaan.
“Golkar terus memposisikan diri sebagai bagian dari pemerintahan — mengawal kebijakan yang berpihak kepada masyarakat,” ujarnya, menegaskan arah politik yang dewasa.
Dan ia benar. Tak bisa disangkal, banyak tangan kader Golkar yang bekerja dalam diam selama masa Pilkada 2024 lalu — tangan-tangan yang ikut mengantarkan kemenangan Ignasius Uran, bahkan ketika partai tidak secara resmi berada di belakangnya.
“Kontribusi Golkar itu nyata. Karya-karya kader Golkar hidup di tengah masyarakat. Itu yang turut membentuk kepercayaan publik terhadap kepemimpinan hari ini,” ucapnya.
Tapi Golkar tidak menagih balas budi. Yang diingat Nani Betan bukan soal siapa berutang pada siapa, melainkan soal siapa yang masih tahu cara berterima kasih dengan sikap.
“Kalau masih mengaku diri sebagai kader, berpernyataanlah dengan santun dan beretika — apalagi sebagai pejabat publik,” tandasnya.
Sebuah pesan penutup yang terasa dingin tapi tajam. Golkar telah “move on”, dari Pesta Pilkada. Nani Betan tampaknya ingin mengingatkan satu hal: kemenangan yang telah dicapai harus dibarengi dengan kerendahan hati Karena pada waktu nya kita akan saling membutuhkan.*(Ell)
|
