Perempuan yang sedari kemarin tidak terlampau sibuk, kini menjadi figur yang amat sibuk dalam ritus ini dan diuji kemapanannya mengelola suasana ketika semua orang mulai letih kaki dan tangannya.

Sementara untuk laki-laki dalam suku bekerja di luar rumah menyiapkan Maga atau wadah besar tempat menaruh bakul-bakul yang sudah disiapkan, sembari meneguk arak atau tuak dan ditemani sebatang rokok membuat suasana terlampau indah apalagi Wuu nuran dijadikan ajang bertemu, saling sapa, dan tentunya kembali mengakrabkan diri antar anak suku setelah sekian lama terpisah akibat kesibukkan masing-masing.

">

Nantinya semua hantaran tersebut akan dibawa menuju rumah besar Lewo Bala Lama Harun Tana Harun Lama Dike (Lamalewo) dengan diiringi tarian We’de yang dimaknai sebagai tarian kegemeriahan dan kegembiraan.

Setelah ritus Uma Lamak, masyarakat setempat ataupun pengujung dapat kembali ke rumah masing-masing beristirahat sejenak, ataupun menghisap rokok sebatang melepas lelah seharian, sembari menunggu ritus keesokkan harinya.

Renha Balawelin: Bukti Kesetiaan Masyarakat

Keesokan harinya, ritual Wuu Nuran kembali digelar dengan ritus perayaan ekaristi di Gua Maria Renha Balaweling yang berjarak 3 kiloan dari lango belen.

Perjalanan sejauh 2 kilo bukan halangan, bagi mereka yang melangkah dengan semangatnya melewati hutan dan bebatuan di atas tanah gersang yang ditumbuhi puluhan pohon yang selama ini menjadi penunjang hidup masyarakat Balawelin.

Tergopoh-gopoh dengan nafas tersengal menjadi buah dari perjalanan ini, namun di titik tertentu kekaguman pun melanda benak mereka yang hadir karena kapela mini yang tadinya menjadi tujuan, berdiri kokoh sosok Ibu nan cantik dibalut sarung adat ditemani sebuah tongkat yang bagi masyarakat setempat diakui sebagai pelindungnya yang berdiam di kapel kecil dikelilingi lukisan-lukisan kecil suku-suku Dan ini pun menjadi jawaban atas serpihan sejarah yang tertinggal di Bumi Lamaholot bahwa bukan hanya satu Bunda Maria Renha yang ada di tana Larantukan tapi juga masih ada di pelosok Negeri yang kering tersebut yakni Bunda Maria Renha Balawelin yang menurut sejarahnya diserahkan oleh mendiang raja Larantuka kepada masyarakat setempat 55 tahun silam sebagai simbol kekeluargaan dan keakraban antara kerajaan Larantuka dengan masyarakat setempat.

Nuansa budaya kental pun mengiringi kegembiraan rohani kita, saat melihat empat buah rumah kecil dengan atap alang-alang yang dipakai Semata Pa atau fungsionaris adat masyarakat Balawelin untuk melakukan ritual adat di kampung lama tersebut atau pun sekedar memberi makan Leluhur lewotana yang mendiami kampung tersebut.

Nantinya dalam perayaan ekaristi tersebut akan ada ritus pemotongan hewan kurban di bawah Nuba dan selanjutnya kepala hewan tersebut dijadikan persembahan dalam ekaristi tersebut.

Demikian sejumput budaya milik Bangsa Balaweling di Kecamatan Solor Barat, Kabupaten Flores Timur yang kini masih terjaga baik. ***

 

 

Terima Kasih sudah membaca berita/artikel kami. Terus dukung kami dengan cara berdonasi ke Rek Bank NTT: 2513684625