Malah kami menduga kasus ‘minta jatah’ ini bakalan menyeret banyak orang nantinya kendati dengan cara yang berbeda-beda.
Takutnya pengalaman TA Pendamping Desa terulang lagi. Maklum terkadang oknum para pendamping desa atau pendamping lokal desa pun ikut bermain dengan mengambil proyek-proyek kecil di desa.
Bahkan di tahun 2017/2018 itu tersiar kabar banyak oknum para pendamping desa yang punya proyek kecil-kecilan di desa.
Dan semoga itu tidak terjadi kali ini dengan hadirnya kasus Kadis PMD ini. Kalau itu terjadi maka sepertinya kejahatan di dinas ini sudah sangat masif dan harus segera dibereskan sehingga tidak menjamur.
Menjamur Sampai di Desa
Berhenti sampai disitu? Oh tidak kebiasaan dana desa yang dijarah atau pun ditilep kerap dilakukan di lapangan oleh orang-orang tertentu yang punya relasi kuat dengan orang-orang penting di pemerintahan atau pun disebut tokoh.
Bahkan kabarnya, oknum-oknum itu sampai tahu kapan pencairan dana desa setiap desa di SBD.
Saat cair maka mereka akan siap menelpon sang kades, wara wiri sebentar dan akhirnya bahasa su cair ko bapa kades akan muncul di ujung telpon.
Sudah biasa dan jadi kebiasaan. Alhasil anggaran dana desa yang semula besar sampai di desa kian mengecil dan berujung pembangunan desa yang tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Hasilnya sudah jelas, kades jadi korban. Jadi tumbal untuk korupsi karena tuntutan ‘kiri kanan’ yang diminta oknum juga besar bukan kepalang.
Saya ingat kala proses pencalonan kepala desa beberapa waktu lalu (saya lupa persis tahunnya tapi tidak dengan ceritanya) banyak kades incumbent batal maju karena gagal dapat rekomendasi.
Bahkan beberapa diantaranya gagal karena utang anggaran dana desa hingga ratusan juta.
Saat ditanya dirinya menjawab uang habis tutup mereka yang lain kesana kesini selain digunakan untuk pesta adat dll.
Miris memang, namun inilah kenyataan pahit yang terjadi. Kades seolah jadi korban dari sistem yang buruk yang sudah dibangun lama tanpa ada perubahan.
Anggaran miliaran yang digelontorkan dari pusat nyatanya hanya hiasan semata, toh bukti lapangan tidak ada. Bagaimana mau maju kalau ‘kepala ikan’ juga sudah berlaku demikian. Otomatis badan dan ekornya pun pasti berlaku demikian yang menghasilkan ikan yang busuk.
Solusinya ganti ikan dengan ikan baru. Mulai kepala hingga ekor agar bisa dimakan, enak di mulut dan kenyang di perut.
Oiya ini catatan sekenanya saja. Jangan dimasukkan di hati, kalau tersinggung syukur kalau tidak pun tidak apa-apa.
Yang pasti catatan ini adalah realitas dan fakta yang dikemas semenarik mungkin untuk mengggugah kita semua untuk tidak membiarkan kebiasaan minta-minta jatah terulang lagi.***
|
