“Perbedaan iklim sangat terasa. Di Taro udaranya dingin, sementara di Lewomada cenderung panas. Selain itu, kesiapan SDM masyarakat masih menjadi tantangan utama dalam pengembangan pariwisata desa,” ungkapnya.

Ia menjelaskan bahwa dalam pengembangan pariwisata, sebuah destinasi idealnya memiliki tiga unsur utama, yakni wisata alam, wisata budaya, dan wisata buatan.

">

“Di Lewomada, potensi alam dan budaya sebenarnya sudah ada. Yang belum maksimal adalah wisata buatan. Padahal ketiga unsur ini harus hadir secara bersamaan agar destinasi benar-benar menarik minat wisatawan,” jelas Nong Pondeng.

Menurutnya, sebagian besar potensi wisata yang dikembangkan di Bali sejatinya juga dimiliki oleh Desa Lewomada. Namun, potensi tersebut masih perlu ditunjang oleh peningkatan kualitas SDM, tata kelola yang profesional, serta kolaborasi antar pemangku kepentingan desa.

Sebagai langkah awal sepulang dari pelatihan, Nong Pondeng menegaskan akan melakukan identifikasi ulang secara menyeluruh terhadap Destinasi Tujuan Wisata (DTW) yang ada di Desa Lewomada.

“Setelah itu, kami akan fokus pada penguatan kapasitas pengelola dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), karena merekalah ujung tombak pengembangan pariwisata desa,” tegasnya.

Pada hari terakhir pelatihan, seluruh peserta mengikuti uji kompetensi yang diselenggarakan oleh Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) untuk kategori pemandu wisata pemula, sebagai bagian dari upaya standarisasi kompetensi SDM pariwisata di NTT.

Menutup keterangannya, Nong Pondeng berharap pelatihan ini menjadi titik awal perubahan bagi pengembangan pariwisata Desa Lewomada ke depan.

“Harapan saya, Lewomada bisa tumbuh menjadi desa wisata yang mandiri, berkarakter, dan berkelanjutan, serta mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pengelolaan pariwisata yang profesional,” pungkasnya. *(Ell)*

 

Terima Kasih sudah membaca berita/artikel kami. Terus dukung kami dengan cara berdonasi ke Rek Bank NTT: 2513684625