NTTKreatif.com, MAUMERE – Desa Wisata Lewomada di Kecamatan Talibura,Kabupaten Sikka mulai bersiap menata masa depan pariwisatanya. Kepala Desa Lewomada, Dominikus Pondeng, dipercaya mewakili Kabupaten Sikka dalam Pelatihan Pemandu Wisata sebagai Local Champion yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) di Bali.

Pelatihan ini merupakan program strategis Pemerintah Provinsi NTT dalam rangka menyiapkan sumber daya manusia (SDM) pariwisata desa yang andal, profesional, dan berdaya saing, khususnya bagi desa-desa yang memiliki potensi wisata alam dan budaya.

">

Kegiatan tersebut diikuti oleh perwakilan dari 20 kabupaten dan 1 kota se-NTT dengan total 31 peserta, di mana beberapa daerah mengutus lebih dari satu peserta. Para peserta merupakan figur yang diproyeksikan menjadi local champion penggerak pariwisata di wilayah masing-masing.

Pelatihan ini secara resmi dilepas oleh Gubernur NTT bersama Wakil Gubernur NTT, Kapolda NTT, serta jajaran pejabat struktural Pemerintah Provinsi NTT dalam sebuah seremoni yang berlangsung di Rumah Jabatan Gubernur NTT.

Dominikus Pondeng, yang akrab disapa Nong Pondeng, menjelaskan bahwa dirinya ditunjuk sebagai peserta setelah mendapatkan mandat langsung dari Dinas Pariwisata Kabupaten Sikka.

“Keikutsertaan saya dalam pelatihan ini merupakan amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Tujuan akhirnya adalah bagaimana pengetahuan dan pengalaman yang saya peroleh bisa diterapkan kembali untuk pengembangan pariwisata di Desa Lewomada,” ujarnya.

Pelatihan dilaksanakan selama tujuh hari, mulai 1 hingga 7 Desember, bertempat di Desa Wisata Taro, Kecamatan Tegalalang, Kabupaten Gianyar, Bali. Desa Taro dikenal sebagai salah satu desa wisata terbaik di Bali dengan pengelolaan pariwisata berbasis masyarakat yang kuat.

Selama pelatihan, peserta tidak hanya menerima materi di dalam kelas, tetapi juga mengikuti studi lapangan langsung untuk melihat praktik pengelolaan desa wisata secara nyata, mulai dari tata kelola destinasi, pelayanan wisatawan, hingga peran masyarakat lokal.

Sebanyak 11 materi utama diberikan kepada peserta, meliputi pengetahuan dasar kepariwisataan, konsep desa wisata, pelayanan wisatawan, komunikasi pemandu wisata, hingga teknik dan taktik kepemanduan wisata profesional.

Selain itu, terdapat dua sesi khusus berupa sharing pengalaman dari pengelola dan Ketua BUMDes Desa Taro, yang membagikan praktik baik dalam mengelola potensi desa menjadi destinasi wisata bernilai ekonomi bagi masyarakat setempat.

Menurut Nong Pondeng, pelatihan ini memberikan banyak inspirasi, meskipun terdapat sejumlah perbedaan mendasar antara Desa Taro dan Desa Lewomada.

“Perbedaan iklim sangat terasa. Di Taro udaranya dingin, sementara di Lewomada cenderung panas. Selain itu, kesiapan SDM masyarakat masih menjadi tantangan utama dalam pengembangan pariwisata desa,” ungkapnya.

Ia menjelaskan bahwa dalam pengembangan pariwisata, sebuah destinasi idealnya memiliki tiga unsur utama, yakni wisata alam, wisata budaya, dan wisata buatan.

“Di Lewomada, potensi alam dan budaya sebenarnya sudah ada. Yang belum maksimal adalah wisata buatan. Padahal ketiga unsur ini harus hadir secara bersamaan agar destinasi benar-benar menarik minat wisatawan,” jelas Nong Pondeng.

Menurutnya, sebagian besar potensi wisata yang dikembangkan di Bali sejatinya juga dimiliki oleh Desa Lewomada. Namun, potensi tersebut masih perlu ditunjang oleh peningkatan kualitas SDM, tata kelola yang profesional, serta kolaborasi antar pemangku kepentingan desa.

Sebagai langkah awal sepulang dari pelatihan, Nong Pondeng menegaskan akan melakukan identifikasi ulang secara menyeluruh terhadap Destinasi Tujuan Wisata (DTW) yang ada di Desa Lewomada.

“Setelah itu, kami akan fokus pada penguatan kapasitas pengelola dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), karena merekalah ujung tombak pengembangan pariwisata desa,” tegasnya.

Pada hari terakhir pelatihan, seluruh peserta mengikuti uji kompetensi yang diselenggarakan oleh Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) untuk kategori pemandu wisata pemula, sebagai bagian dari upaya standarisasi kompetensi SDM pariwisata di NTT.

Menutup keterangannya, Nong Pondeng berharap pelatihan ini menjadi titik awal perubahan bagi pengembangan pariwisata Desa Lewomada ke depan.

“Harapan saya, Lewomada bisa tumbuh menjadi desa wisata yang mandiri, berkarakter, dan berkelanjutan, serta mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pengelolaan pariwisata yang profesional,” pungkasnya. *(Ell)*

 

Terima Kasih sudah membaca berita/artikel kami. Terus dukung kami dengan cara berdonasi ke Rek Bank NTT: 2513684625