NTTKreatif.com, Ngada – Kabupaten Ngada sejatinya memiliki potensi perikanan yang mumpuni untuk dikembangkan, tidak hanya perikanan laut tapi juga air tawar.
Di sebelah utara terdapat Kecamatan Riung yang berinteraksi dengan Laut Flores dan bagian selatan yang menghadap Laut Sawu.
Kedua lautan tersebut menjadi jalur migrasi bagi ikan-ikan pelagis besar dengan nilai ekonomi tinggi bahkan untuk ekspor seperti Cakalang, Layang, dan Tuna.
Sedangkan untuk perairan air tawar, ikan lele dan nila menjadi alternatif pangan untuk masyarakat di kawasan dataran tinggi seperti Bajawa dan Inerie.
Kebutuhan akan protein tinggi ikan diikuti oleh situasi di Kabupaten Ngada yang masih dihantui oleh isu stunting, sehingga ketersediaan ikan untuk konsumsi pangan memiliki peran yang vital.
Dibalik posisi pentingnya, tersimpan ironi dimana masyarakat belum mampu mengoptimalkan sektor perikanan karena beberapa permasalahan fundamental untuk masing-masing komoditas budidaya.
Atas permasalahan kompleks yang dihadapi, perlu adanya kolaborasi lintas keilmuan dan sektor.
Dalam konteks tri dharma perguruan tinggi, Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Brawijaya (UB) memiliki kewajiban akademis untuk mengimplementasikan ilmu pengetahuan di lingkungan perguruan tinggi ke tengah-tengah masyarakat khususnya di masyarakat di Lengkosambi Timur, Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada.
Implementasi ilmu tersebut mulai dengan pencegahan angka prevalansi stunting, pada awal bulan Juli 2025 lalu dengan melakukan pelatihan budidaya ikan lele dan kangkung dalam ember (budikdamber) dengan sasaran kegiatan PKK Kabupaten Ngada.
“Harapannya, setiap rumah tangga mampu menyediakan sumber proteinnya sendiri dan tidak bergantung terhadap fluktuasi kesediaan pangan di pasar,” ungkap Dosen Tim Pengabdian Masyarakat ITB-UB, Esa Fajar Hidayat melalui siaran pers yang diterima nttkreatif.com, Selasa, 4 November 2025 siang tadi.
Esa Fajar, melanjutkan, selain kegiatan di bulan Juni, pihaknya juga melakukan kegiatan lanjutan di Bulan Oktober 2025 yang mengarah ke perikanan budidaya payau, yaitu komoditas bandeng, yang terkosentrasi di Desa Lengkos ambi Timur Kecamatan Riung.
Dirinya mengatakan dalam penyampaiannya Dinas Perikanan Ngada dan Kepala Desa lengkosambi Timur secara menyeluruh mengungkap sejumlah isu menarik diantaranya soal konsep budidaya bandeng yang masih bersifat tradisional dimana petambak belum mendapat pelatihan yang layak sesuai standar yang langsung dijawab dengan pemberian materi pembenihan ikan bandeng.
Demikian juga dengan pelatihan lainnya yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas budidaya bandeng masih tetap akan diberikan oleh tim PM ITB-UB pada kesempatan selanjutnya sembari mengevaluasi hasil pelatihan pembenihan.
“Dari kegiatan yang sudah berlangsung konsep tetra-helix bekerja dalam fungsinya mencapai tujuan perikanan budidaya yang berkelanjutan di Kabupaten Ngada. Tim dosen ITB-UB sebagai pakar akademisi yang berperan memberikan acuan-acuan empiris hasil penelitian di kalangan kampus dan berkewajiban untuk menyampaikan kepada pihak yang membutuhkan dengan harapan komunitas masyarakat tidak lagi menjadi objek, namun objek yang juga wajib partisipatif guna pengembangan model budidaya yang berkelanjutan dan hasil yang meningkat signifikan sesuai sudut pandang empiris,” katanya lagi.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Perikanan,
Wilbrordus Siga, di kesempatan itu berharap ke depannya pendampingan dan pelatihan semacam ini terus dikembangka.
“Semoga apa yang diberikan oleh Bapak/Ibu dosen ini tidak putus disini saja, tetapi terus dilanjutkan dan dikembangkan bersama. Apalagi kita punya SMK Perikanan yang alat-alat nya cukup lengkap, namun kami banyak yang tidak tahu cara pakainnya,” ungkapnya.
Sejalan dengan visi Dinas Perikanan, Anggota DPRD Ngada Atanasius Yosep Lengu pun sependapat.
Dirinya menyebut sebagai legislator, pihaknya akan berupaya untuk memberikan kebijakan pro masyarakat terutama pelaku perikanan budidaya.
“Masukan-masukan dari Bapak/Ibu dosen ini dapat dijadikan pertimbangan teknis sebelum kebijakan dibuat,” pungkasnya.
Sedangkan Ketua Tim, Dr Saat Mubarrok di saat yang sama tidak menutupi rasa senang akan sambutan yang pihaknya terima.
“Kami sangat senang dan sudah seperti saudara. Saya berharap kedekatan ini dapat terus berlangsung dari kami akademisi, pembuat kebijakan, pelaksana kebijakan, dan masyarakat dapat bersinergi menyelesaikan masalah dan meningkatkan potensi daerah di Ngada,” tutupnya.***
|
