
NTTKreatif.com, Tambolaka – Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) memang baru berusia 18 tahun namun siapa sangka perkembangannya begitu luar biasa. Hal itu tampak dari pembangunan yang terbilang masif belakangan ini hingga dijuluki sebagai Metropolitan Mini Pulau Sumba.
Hebatnya, kemajuan itu diikuti dengan semakin berkembangnya perekonomian di wilayah tersebut seiring dengan banyaknya wisatawan yang menyempatkan diri datang ke Sumba Barat Daya untuk menikmati keindahan alamnya.
Maklum, Kabupaten Sumba Barat Daya kini telah bertransformasi menjadi salah satu destinasi unggulan yang membuat banyak wisatawan baik lokal maupun mancanegara tidak pernah kapok datang ke wilayah tersebut. Bahkan setiap harinya, tingkat kehadiran mereka kian tinggi yang membuat kabupaten yang semula renggang menjadi kabupaten yang sibuk.
Namun demikian, harus diakui kalau kondisi yang demikian tidak kemudian membuat SBD lepas dari stigma buruk yang masih melekat. Pasalnya, di tengah euforia perkembangan daerah yang demikian bagusnya ternyata masih ada saja persoalan yang belum kunjung selesai.
Kemiskinan, pendidikan dan kesehatan hingga kini masih menjadi masalah serius di daerah tersebut. Khusus kesehatan, persoalan stunting jadi yang persoalan urgen yang bikin pusing kepala. Bagaimana tidak, bukannya menurun, angka prevalensi stunting malah meningkat di angka 38 persen lebih.
Tidak heran sejak terpilih jadi Bupati dan Wakil Bupati SBD, Ratu Wulla Talu dan Dominikus A Rangga Kaka, langsung menjadikan stunting sebagai musuh utama. Segala upaya pun dilakukan mulai dengan mengerahkan setiap dinas dan puskesmas serta di desa untuk turun langsung ke lapangan dan memberikan PMT hingga berkolaborasi dengan PKK melalui program Lomba Cipta Menu Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman (B2SA) serba ikan belum lama ini.
Kala itu, Bupati SBD, Ratu Wulla Talu secara terang-terangan menyebut kalau apa yang dibuat PKK tersebut adalah bagian dari upaya untuk membantu pemerintah menurunkan angka stunting di wilayah tersebut. Pemberian makanan dengan B2SA serba ikan diharapkan bisa memicu anak untuk bisa meningkatkan keinginannya untuk makan.
Kolaborasi Antar Dinas

Menariknya, selain dengan TP PKK, kerja kolaboratif juga ditekankan juga pada dinas-dinas yang masih saling berhubungan seperti PMD, Dinas Sosial, dan Dinas Kesehatan. Hal ini dikarenakan ketiganya memiliki peran penting untuk membantu pemerintah menurunkan angka stunting yang ada.
“Saya sudah minta ketiga dinas untuk saling kerjasama. Karena mereka ini saling berhubungan. Omong data ini kan harus jelas. Misalnya, mau bagi BLT atau PKH cek dulu anak-anaknya sudah imunisasi dan cek lengkap belum kalau belum maka harus diarahkan dulu karena stunting ini kan masalah kesehatan sehingga tidak kemudian intervensi kita keluar dari data yang ada,” ungkap Bupati Ratu saat itu.
|
