Oleh Rosa Rodja Labina, FIA Brawijaya
Stunting merupakan permasalahan Kesehatan yang menjadi tantanga berat bagi Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur beberapa tahun terakhir.
Berdasarkan data dari Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), stunting di NTT menempati salah satu posisi tertinggi secara nasional.
Faktor utama penyebab stunting adalah kurangnya asupan gizi yang berkualitas sejak masa kehamilan hingga usia dua tahun.
Stunting berdampak pada pertumbuhan fisik, perkembangan kognitif, dan produktivitas jangka panjang anak.
Di NTT, beberapa factor yang memperburuk penanganan stunting meliputi kondisi geografis, angka kemiskinan akses pangan terbatas serta rendahnya pengetahuan mengenai gizi.
Menyikapi pentingnya penanganan Stunting ini Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur bekerja sama dengan berberapa pihak telah melaksanankan beberapa Program yang  bertujuan untuk meningkatkan gizi balita dan mencegah stunting melalui berbagai intervensi, termasuk pemberian susu, pelatihan, dan pendidikan gizi.
Dalam Teori Intervensi Gizi Terarah (Targeted Nutritional Interventions) oleh UNICEF dan WHO menekankan pentingnya intervensi gizi yang terfokus pada kelompok rentan, terutama pada periode emas (1000 Hari Pertama Kehidupan).
Intervensi bisa berupa suplementasi, edukasi gizi, hingga penyediaan makanan bergizi secara langsung.
Tujuan Teori Intervensi Gizi Terarah adalah untuk memberikan dasar ilmiah dan strategis dalam merancang, mengimplementasikan, dan mengevaluasi program intervensi gizi yang difokuskan pada kelompok sasaran tertentu dengan pendekatan yang sistematis, dengan salah satu tujuan utamanya adalah Mengurangi Beban Penyakit yang Berkaitan dengan Gizi seperti stunting.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan Pemerintahan Prabowo -Gibran memberikan angin segar bagi penanganan masalah stunting di NTT.
Program ini bertujuan memberikan akses makanan sehat dan bergizi kepada anak-anak usia dini, khususnya siswa PAUD dan Sekolah Dasar, sehingga Program MBG ini diterima sebagai bentuk konkret dari intervensi gizi terarah yang menyasar anak usia sekolah sebagai kelompok prioritas untuk pencegahan stunting terhadap penanganan masalah stunting di NTT.
Merujuk pada teori Intervensi Gizi Terarah,Program Makan Bergizi Gratis merupakan inisiatif pemerintah yang bertujuan untuk meningkatkan status gizi masyarakat, khususnya anak-anak sekolah dasar dan menengah, dengan memberikan makanan bergizi secara cuma-cuma.
Analisis MGB Berdasarkan Teori Intervensi Gizi Terarah dimulai dengan identifikasi kelompok rentan (anak sekolah usia 6–18 tahun) yang berisiko mengalami kekurangan gizi, anemia, atau stunting dimana Program MBG menyasar anak sekolah sebagai populasi penting untuk intervensi dini. Selanjutnya Penetapan Tujuan yang Spesifik dan Terukur, Program MGB perlu dilengkapi dengan indikator kinerja yang jelas, misalnya peningkatan skor Z-Score gizi anak, pengurangan angka bolos karena sakit, atau peningkatan konsentrasi belajar.
Langkah berikutnya adalah pelaksanaan Program MGB harus melalui Perancangan Intervensi yang Sesuai, yaitu Intervensi harus sesuai kebutuhan lokal (makanan bergizi berbasis pangan lokal, sesuai dengan kebiasaan makan),bilamana jika menu tidak disesuaikan dengan kondisi lokal, risiko pemborosan makanan dan rendahnya konsumsi oleh siswa menjadi tinggi. Oleh karena itu, partisipasi komunitas (guru, orang tua, tenaga gizi) sangat penting.
Analisis selanjutnya yaitu Pelaksanaan Program Terpadu yaitu Intervensi perlu lintas sektor (kesehatan, pendidikan, pertanian).Kolaborasi antara Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, dan penyedia pangan lokal merupakan kunci keberhasilan. Program ini juga dapat memberdayakan ekonomi lokal melalui pengadaan bahan makanan dari petani setempat.
Paada tahap akhir analisis berupa Pemantauan dan Evaluasi yakni harus ada sistem monitoring status gizi anak sebelum, selama, dan sesudah program. Evaluasi belum tentu optimal jika hanya melihat distribusi makanan. Harus ada pengukuran output gizi (berat badan, tinggi badan, Hb darah) secara berkala.
Didasarkan pada uraian analisi teori Intervensi Gizi Terarah,Program MGB memiliki kelebihan jika mengikuti Teori Ini yaitu Tepat sasaran karena berbasis data kebutuhan gizi, Efektif dalam mencegah masalah gizi masa depan (stunting, anemia) dan dapat menjadi investasi SDM jangka panjang melalui peningkatan kualitas belajar dan kesehatan anak.
Teori Intervensi Gizi Terarah memberikan kerangka yang kuat dalam memastikan bahwa program Makan Bergizi Gratis tidak hanya sebatas distribusi makanan, tetapi menjadi strategi jangka panjang untuk perbaikan gizi dan pembangunan SDM. Tanpa pendekatan yang terarah, program ini berisiko menjadi program simbolis tanpa dampak nyata terhadap kesehatan anak.
Pada awal pelaksanaan, program MBG di NTT dimulai di Kabupaten Kupang dengan 12 sekolah yang melayani sekitar 3.062 siswa. Namun, dari total 749 titik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang direncanakan di seluruh provinsi, baru satu titik yang beroperasi pada hari pertama pelaksanaan(ANTARA News, kompas.id).
Pemerintah Provinsi NTT menargetkan pelaksanaan program ini di 749 sekolah yang tersebar di 22 kabupaten/kota. Program ini diharapkan dapat menjawab masalah stunting di wilayah tersebut (detikcom).
Tantangan dan Dukungan
Pelaksanaan program MBG di NTT menghadapi tantangan, terutama dalam hal kesiapan infrastruktur dan logistik. Namun, pemerintah daerah bekerja sama dengan Badan Gizi Nasional dan mitra lokal untuk memastikan kelancaran distribusi makanan bergizi(ANTARA News).
Selain itu, program ini juga bertujuan untuk memberdayakan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dan petani lokal, dengan memanfaatkan produk pangan lokal sebagai sumber bahan makanan. Hal ini diharapkan dapat mendukung perekonomian lokal sekaligus memastikan keberlanjutan program .
Teori Intervensi Gizi Terarah memberikan kerangka yang kuat dalam memastikan bahwa program Makan Bergizi Gratis tidak hanya sebatas distribusi makanan, tetapi menjadi strategi jangka panjang untuk perbaikan gizi dan pembangunan SDM. Tanpa pendekatan yang terarah, program ini berisiko menjadi program simbolis tanpa dampak nyata terhadap kesehatan anak.
|
