Pada malam hari, panggung festival dihidupkan oleh pentas budaya dari berbagai sanggar seni, baik dari Desa Lewomada maupun sanggar tamu dari Kabupaten Sikka dan Flores Timur. Kehadiran mereka menambah warna pertunjukan, sekaligus menjalin jejaring kebudayaan lintas wilayah.

Festival ini menjadi momentum penting untuk memperkenalkan dua identitas budaya utama di Lewomada, yakni Lamaholot dan Muhan Tana Ai. “Sanggar yang tampil berasal dari dua akar budaya itu. Ini kesempatan bagi generasi muda dan tamu luar untuk mengenal lebih dekat kekayaan tradisi kita,” ujar Dominikus.

">

Menurut Dominikus, selain sebagai ajang promosi budaya, festival ini juga bertujuan mempererat silaturahmi antarsanggar dan antarwarga dari berbagai daerah. Ia berharap kegiatan ini memperkuat posisi Lewomada sebagai desa yang aktif membangun melalui pendekatan budaya.

Desa Lewomada berada di kawasan pesisir utara Flores, yang belakangan dikenal dengan sebutan Pantura Timur Jauh. Dominikus mengajak masyarakat dari berbagai daerah, khususnya dari Kabupaten Sikka dan Flores Timur, untuk hadir dan menyaksikan langsung keunikan festival ini.

“Saya mengundang semua warga, khususnya di wilayah Pantura Timur Jauh, untuk datang meramaikan Festival Pesona Lewomada 2025. Mari kita rayakan bersama budaya, persaudaraan, dan sejarah desa kita,” pungkasnya.*(Ell)

 

Terima Kasih sudah membaca berita/artikel kami. Terus dukung kami dengan cara berdonasi ke Rek Bank NTT: 2513684625