Oleh: Maya Takanjanji
Asap rokok mengepul bebas di udara yang rasanya hampa seperti sedang berada di luar angkasa. Bau khas laki-laki memenuhi ruang kamar yang berantakan, aroma campur aduk tercium kuat bahkan ketika seseorang baru saja membuka pintu . Luar biasa berantakan. Seberantakan pikiranku saat ini. Hampir sebulan ini, setiap hari aku melamun di sini ditemani berbungkus-bungkus rokok yang tidak lagi dapat kuhitung jumlahnya.
Satu-satunya yang berputar di kepalaku sekarang hanyalah angka kepergian orang yang sangat aku sayangi dan dendam kesumat kepada bapak.
“Laki-laki sial itu, katoppo ini sudah saya siapkan untuk mengirimnya ke neraka tempat ia seharusnya berada.” kataku dalam hati sambil menatap tajam kearah sebuah parang khas Sumba yang tergantung horizontal pada dinding kamar. Sengaja aku gantung dengan posisi seperti itu, sebagai simbol yang aku sendiri yakini bahwa itu berarti aku tidak akan pernah memaafkan laki-laki itu sampai kapanpun. “Sudah saya gantikan tempat katoppo itu digantung dengan kepalamu kalo saja saya ada kesempatan” geramku dalam hati.
Aku tidak mengerti kenapa Tuhan se-tidak berpihak ini kepada orang yang setiap hari menjadikan doa sebagai tameng dalam hidupnya. Ia biarkan aku kalah dalam pertempuran di medan emosi yang semu ini. Hidup memang sementara tapi ini terlalu kejam untuk kunikmati sendirian dengan penyiksaan ini. Tidakkah doaku menembus langit? Tidakkah pinta umur yang panjang untuk orang yang kucintai separuh nyawa itu layak terjawabi?
“Kehilangan ini bukan Salib yang siap saya pikul, Tuhan. Saya bukan Bunda Maria yang sekuat ketegaran berkata saya ini hamba Tuhan terjadilah kepada saya menurut kehendak-Mu. Saya juga bukan para martir yang siap berkorban tanpa pamrih, yang hanya berpegang pada keteguhan hati untuk memikul Salibnya sampai mati. Tidak. Bukan saya. Saya adalah saya dengan kesayaannya yang setengah binatang yang mencoba menentang ke-Ilahian-Mu. Saya mendebat kesementaraan ini, Tuhan. Jika harga yang harus saya bayar adalah neraka di ujung sana, maka terjadilah demikian asalkan saya tidak terlahir dari keringat seorang lelaki busuk itu dan kehilangan orang yang saya cintai selamanya” ucapku dalam keheningan yang mencekam antara aku dan ketiadaan yang ada.
“Tok tok tok..!tok tok tok…!Kakak!!…tok tok tok..! Kakak tolong buka pintu dulu..!! Sudah sore ini. Dari pagi belum makan. Setiap hari begitu, nanti sakit siapa yang uruss, Kakak??”
Suara ketukan dari luar mendesak, dari nada suara yang nyaris terdengar seperti tangisan pilu yang pecah di udara yang sembab di rumah ini setelah kehilangan hangatnya yang tiba-tiba. Sepertinya itu sudah ketukan yang kesekian kali sebelum aku menjadi sadar dari pertempuran pikiran yang hanya aku sendiri yang tahu.
Tuhan pun kurasa tidak ada, jika Ia ada, tidak mungkin tahan melihatku menderita seperti ini. Tuhan adalah Bapak kata orang-orang, tapi aku benci bapak. Jika demikian aku tidak layak bertuhan.
Emi adikku yang mengetuk pintu yang menjadi pekerjaan tambahannya akhir-akhir ini—mengantarkan makan kepada kakaknya yang setengah mati. Dengan kepala yang berat dan enggan aku melangkah menuju pintu. Makanan yang biasa diantarnya kadang basi tak tersentuh olehku.
Aku kenyang dengan kehampaan dan rindu yang tak menemui rumahnya lagi untuk berpulang sekedar merebahkan lelah pada suara mama. Pulang pada hangat peluk mama yang selalu semangat mengatakan “ itu saya pu anak laki-laki satu-satunya” sekalipun aku berbuat kesalahan sewaktu kecil. Rumah bukan hanya sekedar bangunan tapi lebih dari itu: suara mama yang selalu terngiang seperti puisi dalam iringan instrument pengantar tidur di malam hari. Tentang cintanya yang tanpa tapi, tentang aroma masakan mama, Roe Pakoda dan sambal toro poddu yang dibuatnya dengan keikhlasan dan cinta yang tak terselami. Tentang suasana yang ramai dengan suara mama yang mempersiapkan segalanya untuk anak-anaknya yang siap berangkat sekolah setiap pagi dan menyambut kami pulang dengan kalimat “ itu makan sudah siap di meja. Abis makan bawa buku mama periksa pekerjaan di sekolah hari ini”.
Ah, mama kemana lagi anak laki-lakimu ini harus pulang untuk menjadi dirinya sendiri kalau bukan pada pelukmu ? Bolehkah aku terlahir kembali dan engkau tetap menjadi ibuku?
Kutangkap sosok Emi di luar. Raut wajahnya tak dapat kubaca; entah marah, kasihan, atau empati berlebih yang ditutupi. Sekilas saja dia sepenuhnya adalah duplikat orang yang sangat aku rindukan itu–mama. Ah sial. Air mataku mengalir lagi mengingat mama yang kutangkap pada sosok adik perempuanku ini. Seharusnya mama yang membangunkanku dari tidurku setiap hari. Seperti yang selalu ia lakukan sejak kecil, beranjak dewasa, bahkan sampai ketika aku tinggal berjauhan dengannya ribuan kilometer. Aku kuliah di Kupang dan mama di Sumba, tapi suaranya menggema di telingaku setiap pagi “Bangun sudah, Ama. Pi sekolah. Kalo tidak sekolah nanti besar jadi ata kedu.” Ah, mama….. Kenapa harus mama yang pergi secepat ini. Anak laki-laki kesayanganmu ini patah mama.
“Kakak makan dulu dengan Emi. Keluar makan di meja. Jangan di kamar terus. Bapak tidak ada, Kakak tenang saja. Bapak dijemput bapak Nong pi rumah besar tadi pagi”. Kulihat ketegaran di matanya yang dipaksakan. Aku tahu betul dia lebih rapuh dari yang bisa aku bayangkan sebab dia adalah perempuan. Perempuan jelas lebih rapuh soal perasaan , kan? Sebagai anak perempuan tertua, dialah yang lebih dekat seumur hidup mama, yang merawat mama ketika pendidikan memaksaku untuk jauh merantau memikul harapan dan juga rindu. Dia memaksa diri kuat menggantikan sosok mama untuk kami berempat: Aku, Tere, Nadia, dan Marsya. Aku anak sulung, putra tunggal tapi tanpa mama, sekarang aku bukan siapa-siapa.” Dia sa pu anak laki-laki, sulung, satu-satunya” suara itu terus terngiang di pikiran yang membuat sulit tidur. Emi yang paling terluka menyaksikan peristiwa kepergian Mama dan masalah antara aku dan bapak dari tahun 2020 lalu. Aku dan bapak tidak saling bicara sejak saat itu sampai hari ini dan akan selalu begitu selamanya. Aku tidak sudi melihat wajahnya.
Saat itu, di tahun 2020 tepatnya di bulan Juni aku sedang mengerjakan tugas akhir dan aku memilih kampungku sebagai wilayah sampel penelitian. Sebelum meninggalkan kost di daerah Penfui, Kota Kupang, aku sempat berdoa Novena selama 9 hari agar diberikan petunjuk untuk segala sesuatu yang baik dalam hidupku dan kelancaran proses penelitian. Tidak tahu angin dari mana, perasaanku tak karuan di hari yang ke-9 sesaat setelah aku menyelesaikan doa Novena Tiga Salam Maria. Waktu menunjukkan pukul 03.20 dini hari, ada perasaan tidak nyaman yang menyelinap di pikiran yang membuatku sulit tidur. Sesekali muncul bayang mama dalam benak, “Ah, mungkin ini efek rindu yang akan menemui rumahnya untuk pulang esok. Tiket kapal Sabuk Nusantara 49 sudah aku kantongi. Pakaian dan oleh-oleh untuk dibawa sudah aku siapkan. “Tinggal berangkat besok pagi” pikirku dan mengabaikan perasaan tak karuan itu.
Sumba selalu punya kehangatannya sendiri yang membuat setiap orang yang datang dan pergi memiliki alasan untuk merindu; derap langkah kaki kuda yang mantap, gerombolan sapi yang memenuhi padang sabana, rumah panggung beratap jerami, keindahan alamnya yang eksotis dan keunikan budaya yang khas. Orang-orang yang lahir maupun yang hanya menjadi pengunjung sementara, pulau ini selalu memiliki tempat tersendiri di dalam hati. Begitu juga dengaku tetapi semua ini berubah menjadi neraka dalam ingatan yang tidak ingin kusentuh lagi.
Satu minggu setelah kepulanganku di kampung halaman, keluargaku dihadapkan dengan masalah yang sangat besar. Bapak dan mama bertengkar hebat untuk pertama kalinya dalam hidupku aku menyaksikan pertengkaran ini. Laki-laki yang menjadi panutanku, laki-laki yang kusebut bapak ketahuan selingkuh dengan seorang janda kampung sebelah. Seseorang yang juga kami kenal baik. Pukulan hebat yang kami anak-anaknya rasakan. Lelaki dengan mata teduh itu ternyata menyimpan duri yang merobek hati kami sedemikian dalam dengan alasan khilaf. Entah berapa lama. Aku sungguh tidak percaya dengan apa yang dilakukannya.
Masalah diselesaikan melalui mediasi adat dan mama memilih tetap bertahan demi kami anak-anaknya, terutama Marsya yang baru berumur 3 Tahun saat itu. Aku hampir memukulnya dengan tinjuku di tengah banyak orang yang sibuk memediasi. Wajah teduh yang kucintai berubah menjadi rasa muak dan dendam yang abadi, apalagi ketika mendengar penuturan mama dan kejujuran dari mulut janda itu bahwa hubungan terlarang itu sudah diam-diam dilakukan selama 2 tahun. Dada terasa sesak dan air mata kekecewaan tidak dapat aku tahan.
“Tuhan, kenapa jadi begini. Saya su dewasa begini, saya malu dengan masalah ini” jeritku dalam hati. Yang paling mengecewakanku adalah mama sudah mengetahui itu semua sejak lama dan sendirian menangung luka itu demi kami. Lelaki itu, ia tidak kunjung berubah tapi sepintar-pintarnya bangkai ditutupi, baunya tetap akan tercium juga. Dengan emosi yang membara, aku berlari ke halaman rumah dan dengan teriakan aku bersumpah, “ dengarrrr bapak!! demi Tuhan, saya tidak akan panggil kau bapak lagi mulai hari ini!! Saya tidak peduli Tuhan kutuk saya tapi dengar ini sumpah mati saya!! Saya tidak akan panggil kau bapak lagi mulai hari ini!! Saya punya bapak sudah mati!!” sumpahku disaksikan oleh banyak orang dan diamini oleh alam lewat hujan bulan Juni yang turun mengguyur bumi seakan ikut merasakan patah hati seorang anak laki-laki yang menyaksikan pengkhianatan cinta yang luar biasa menyakitkan ini.
Mama memilih mengorbankan ego dan perasaannya demi menjaga keutuhan rumah tangganya. “Menikah dalam Katolik hanya sekali seumur hidup, Ama. Mama mencintai bapak dengan segenap hati dan sudah terikat dalam sakramen perkawanin. Tidak mudah untuk bercerai” ucap Mama setiap kali aku membujuknya untuk meninggalkan lelaki itu. “ Mama sudah tidak muda lagi, Ama. Mama mencintai bapak dan kalian adalah buktinya. Manusia terlalu rapuh untuk tidak jatuh dalam pencobaan. Begitu juga bapak. Mengampuni dengan kasih adalah Salib yang mesti kita pikul sebagai pengikut Kristus. Mama hanya harap Ama selesaikan kuliah cepat dan topang nko pu adik-adik nanti. Kalau nko sayang mama, mama tolong ingat ini: jangan pernah menyakiti hati perempuan karena air mata mereka akan memberatkan nko punya langkah” nasihatnya tengah berusaha menenangkanku yang sedang menggebu dalam amarah. Mama, betapa luas hatimu. Cinta bagimu adalah pengorbanan tanpa merasa berkorban.
Sejak saat itu aku meninggalkan Sumba dan menepati janjiku pada mama untuk menyelesaikan kuliah tepat waktu. Aku tidak pernah ingin pulang ke Sumba, ke rumah itu lagi. Tapi harga yang harus aku bayar adalah rindu pada mama dan adik-adik perempuanku. Aku melamar pekerjaan di sebuah media massa di kota Kupang. Jika rindu Mama, aku hanya menelponnya. Beberapa kali Mama membujukku untuk pulang tapi hatiku terlalu keras untuk dibujuk.
Januari 2025 Mama jatuh sakit dan beberapa kali harus dirawat inap di rumah sakit terdekat. Karena terikat pekerjaan, aku tidak bisa pulang untuk menjenguknya. Emi selalu mengirimiku pesan melalui whatsApp tentang kondisi mama dan sesekali kami melakukan VideoCall di sela-sela kesibukan. Sampai pada akhir hidup mama, aku tidak ada di sampingnya. Aku menyesali keputusanku yang mengikuti ego. Tapi semua sudah terlambat. “Sekarang rindu ini makin jauh dari rumah, Mama. Mama saya pu rumah hancur. Mama maafkan saya. Saya durhaka terhadap mama. Kata mama penderitaan adalah Salib yang harus kita pikul tapi ini terlalu berat mama. Saya tidak sanggup.” bisikku lirih dengan tangis yang tertahan disepanjang perjalanan menuju Sumba menggunakan pesawat. Aku menatap kosong menembus awan-awan. Rasanya seperti baru kemarin. Sampai hari ini perasaan itu masih sama. Hampa.
“Kakak..Kakak dengar tidak saya omong..Ayo keluar makan dulu” suaranya menarik aku kembali pada realitas. Pikiranku masih pada perdebatan emosional antar penerimaan atau pengikhlasan. Rumah ini masiih penuh bayang mama. Tatapan Emi berubah memelas. Adik perempuanku itu memaksa untuk tidak ditolak permintaanya kali ini.
“Minggu depan kakak jadi pulang ke Kupang?” tanya Emi memecah keheningan di meja makan.
“Iya, Emi. Saya harus pulang karena pekerjaan.” Jawabku seadanya.
“Kakak ingat pesan mama. Mama mau kakak dengan bapak damai. Kita harus rawat bapak demi mama, Kakak…”
|
