*Catatan Reflektif Penulis Kampung: Max Werang
Pada Jumat Agung, gereja menjadi hening. Lilin-lilin padam, altar tak berselubung, dan lonceng tak berdentang. Yang tersisa hanyalah keheningan dan salib. Di tengah keheningan itulah, umat satu per satu melangkah ke depan sambil bersimpuh, menunduk, lalu mencium salib. Salib Yesus Kristus dimaknai bukan sekadar kayu, bukan juga sekadar tradisi, tetapi cinta, luka dan pengharapan.
Ciuman di Atas Luka
Mereka yang mencium salib di Jumat Agung sedang berbicara dalam bahasa yang tak terdengar, bahasa air mata, bahasa luka yang disembunyikan di balik senyum, bahasa hati yang rindu pulang ke pelukan Sang Penebus.
Saat bibir menyentuh kayu salib, ada jiwa yang berkata,
“Ini dosaku, Tuhan. Tapi Engkau tak berpaling.”
“Engkau tetap memikul salib itu, bahkan ketika aku mengabaikan-Mu.”
“Hari ini aku datang, membawa semua yang retak dalam hidupku.”
Ciuman itu adalah pernyataan: Aku percaya pada cinta yang tak menyerah.
Ziarah: Mencari Kehadiran dalam Kehilangan
|
