Lebih lanjut Yudis, pasien datang di tanggal 22 Juli 2024, sebulan kemudian.
“Selama ini pasien tidak pernah datang lagi, pasien tersebut baru datang di tanggal 22 Juli 2024. Awalnya keluarga pasien tidak mengakui bahwa selama ini selalu bawa di dukun. Setelah saya cek, di perut pasien terdapat Siring Pinang seperti obat herbal, barulah keluarga pasien mengakui bahwa selama ini pasien berobat di dukun. Menurut pengakuan keluarga pasien, kata Dokter Yudis, stelah sekian lama di dukun tidak ada perubahan dan tidak bisa ditangani, dukun minta keluarga pasien untuk bawa di Puskesmas.” ungkapnya.
Yudis menyebutkan, pada saat pasien tiba di Puskesmas Gaura pihaknya melakukan penanganan awal dan kondisi pasien, kata Dokter, semuanya stabil dan tidak ada tanda kegawatdaruratan.
Yudis juga mengatakan, setelah melakukan pemeriksaan fisik terhadap pasien, ia juga menyarankan kepada keluarga pasien agar pasien tidak dibawa ke dukun.
“Setelah saya melakukan pemeriksaan fisik, saya yang menyarankan pasien tidak bisa lagi bawa di dukun. Harus dengan dokter spesialis untuk tindakan USG. Tetapi kalau bawa di Dokter spesialis, karena BPJS belum aktif saat ini, saya menjelaskan bahwa di sana ada tarifnya, kalau pasien bawa langsung ke dokter spesialis sekarang, tinggal memilih apakah aktifkan dulu BPJS atau bawa pasien langsung di dokter spesialis. Setelah itu, saya tetap melakukan tindakan medis dengan memberikan obat dan infus kepada pasien. Dan pada saat itu tidak ada keluarga yang minta rujukan hingga sampai pukul 13.00 WITA.” jelas Yudis.
Sementara itu, Yublina Nunu, perawat Puskesmas Gaura yang menerima pasien pagi itu, menyampaikan bahwa tidak pernah menolak bagi siapapun yang membutuhkan rujukan.Ia juga menyampaikan bahwa selama ini tidak pernah minta uang dari pasien yang tidak menggunakan BPJS jika belum dilakukan penanganan.
“Pada saat Apliana tiba di Puskesmas, tidak ada permintaan rujukan dari keluarga. Sehingga kami tetap melakukan tindakan medis sesuai diagnosa dari ibu dokter, kami hanya menjelaskan terkait keaktifan BPJS.” katanya
Menurut Sara Pedi, petugas Puskesmas yang dinas malam saat itu, sekira pukul 19.30, suami pasien meminta kepada petugas medis untuk sementara pergi membawa Apliana di rumah keluarga terdekat. Atas permintaan suami Apliana, sehingga petugas medis yang bertugas saat itu mengindahkan
permintaan tersebut. Namun, kata Sara, satu jam kemudian, Apliana di bawa pulang di Puskesmas dalam kondisi kritis, namun saat melakukan pemeriksaan korban sudah tak bernyawa (meninggal dunia) pada pukul 20.30 WITA.
Sementara keluarga Apliana mengaku bahwa petugas medis meminta untuk membayar secara cash, sebab jika tidak, maka tidak diberi cairan infus dan obat.
“Kalau kamu tidak bayar, kami tidak pasang infus dan tidak kasih obat. Soalnya sekarang ini sudah peraturan baru,” terang Elsa, salah seorang anggota keluarga Almarhum Apliana, menirukan kata-kata petugas medis di Puskesmas Gaura saat itu.
“Jadi kami siap bayar sudah. Baru dorang segera ambil infus dan kasih obat, sambil kami minta bantuan ke salah satu keluarga yang ada di kota untuk kasi aktifkan dia punya BPJS kesehatan,” tuturnya menambahkan.
Sekitar pukul 15:00 wita, pihak keluarga menerima informasi dari kota Waikabubak, bahwa NIK Apliana sudah diaktifkan sebagai pengguna manfaat BPJS.
Mengetahui hal itu, Elsa lantas meneruskan informasi itu kepada petugas medis dengan harapan rekomendasi rujuk segera diterbitkan. Namun, petugas malah tidak menindaklanjuti dan justru meminta untuk ditunda keesokkan harinya.
“Ibu niknya sudah aktif. Saya bilang begitu. Jadi dia bilang, iya nanti tunggu besok pagi datang 1 orang begitu cek lagi NIKnya kalau sudah aktif tinggal ambil rujukan sudah begitu,” tutur Elsa meniru percakapannya dengan petugas medis.
Pihak medis beralasan, waktu pembukaan loket sudah ditutup pada pukul 12:00, sehingga baru akan dilakukan pada keesokan harinya.
“Jadi kami bertahan saja sudah, karena katanya aturan di Puskesmas begitu. Kami terpaksa mau tunggu besoknya sesuai kata petugas,” tukasnya.” ujarnya.
Elsa juga menyampaikan, sekira pukul 19.00 kami diminta untuk pulang karena cairan infus sudah habis, karena sesuai instruksi medis sebelumnya, jika cairan infus sudah habis boleh pulang, sehingga Elsa yang saat itu sedang ambil makan malam untuk pasien, ditelpon oleh suami Apliana agar segera menjemput mereka menuju rumah keluarga yang ada di sekitar Puskesmas.
“Saat itu saya dapat telpon dari suaminya Apliana untuk pulang kembali di Puskesmas, bahwa cairan infus sudah habis supaya kita segera pulang. Dan saat itu saya langsung kembali di Puskesmas. Sesampainya di puskesmas Apliana bersama suami sudah di menunggu di luar di depan Puskesmas, sehingga kami langsung bawa pulang Apliana di rumah keluarga terdekat,” ucapnya
“Setelah tiba di rumah keluarga tempat kami ambil bubur makan malam, satu jam kemudian, penyakit Apliana kembali kumat sehingga kami kembali ke Puskesmas menggunakan motor dengan tujuan mendapat pertolongan medis. Waktu saya sampai di Puskesmas, saya tidak dapat nafas terakhirnya Apliana.” terang Elsa.***
|

Tinggalkan Balasan