Gaura, nttkreatif.com – Beberapa hari terakhir ini masyarakat Sumba Barat dihebohkan dengan mencuatnya ke publik terkait pasien yang diduga meninggal dunia di Puskesmas Gaura.

Pasien tersebut bernama Apliana Kodi Lewa merupakan warga desa Wetana, kecamatan Laboya Barat, Kabupaten Sumba Barat, NTT.

">

Apliana diketahui tiba di Puskesmas Gaura pada hari Senin, 22 Juli 2024, sekitar pukul 10:30 wita.

Ia dibawa menggunakan mobil Ambulance milik Pemerintah Desa Wetana.

Setibanya di sana, Elsa Bili, salah seorang keluarga langsung menuju ke loket pendaftaran yang diikuti dengan pengecekan NIK pasien oleh petugas medis untuk mengetahui status BPJS. Hasil pengecekkan pada sistem mengkonfirmasi NIK, Apliana tidak aktif.

Apliana meninggal dunia pada hari Senin tanggal 22 Juli 2024 di Puskesmas Gaura sekira pukul 20.30 WITA.

Pihak Puskesmas membantah adanya penolakan rujuk dari Puskesmas Gaura terhadap Apliana.

Kepala Puskesmas Gaura, Soleman Bani menjelaskan, pada hari Senin tanggal 22 Juli 2024 pagi, pasien atas nama Apliana Kodi Lewa bersama keluarga datang ke Puskesmas Gaura sekira pukul 10.30 WITA dengan keluhan diare dan nyeri pada perut.

Saat tiba di Puskesmas, Apliana diterima baik oleh petugas Puskesmas dan Apliana dalam kondisi masih stabil. Salah satu keluarga Apliana melakukan pendaftaran di loket pendaftaran. Seperti biasanya, kata Soleman Bani, petugas rumah sakit terlebih dahulu harus melakukan pengecekan di sistem apakah NIK yang bersangkutan masih aktif di BPJS atau tidak.

Lebih lanjut Soleman Bani, usai dilakukan pengecekan NIK pada sistem BPJS oleh petugas, ternyata NIK yang bersangkutan tidak aktif, sehingga petugas menyampaikan kepada keluarga pasien bahwa NIK yang bersangkutan tidak aktif.

Soleman juga menyampaikan bahwa petugas medis yang bertugas saat itu menjelaskan kepada keluarga Apliana agar NIKnya segera diaktifkan kembali, jika belum diaktifkan maka ada beban biaya.

Kendati demikian, pihak Puskesmas Gaura tetap melayani pasien dengan baik seperti biasanya melakukan penanganan awal.

“Pihak dokter melakukan penanganan awal, diberikan obat dan diberikan cairan atau infus. Pagi itu, tidak ada keluarga yang minta rujukan kepada kami untuk rujuk Apliana.” kata Soleman Bani selaku Kepala Puskesmas Gaura kepada media ini, saat melakukan klarifikasi di Puskesmas Gaura yang dihadiri oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sumba Barat, dr. Bonar B. Sinaga, Vincent (Kabid Pelayanan), dr. Yudis, Yublina Nunu, Maria Fransiska Nyanyi, Sara Pedi, pada Kamis (25/07/2024).

Atas peristiwa tersebut, pihaknya menyampaikan berbelasungkawa atas meninggalnya Apliana Kodi Lewa.

“Segenap keluarga besar Puskesmas Gaura, kami turut berdukacita yang mendalam atas meninggalnya Apliana Kodi Lewa.” ucap Soleman

Kronologi kejadian dari penanganan awal oleh dokter hingga Apliana menghembuskan nafas terakhirnya.

Dokter Yudis menjelaskan, bahwa saat melakukan pemeriksaan awal terhadap pasien, semua stabil dan tidak ada tanda kegawatdaruratan.

“Pada saat kami periksa pasien, kondisi pasien masih stabil dan tidak ada tanda menuju kegawatdaruratan. Karena menurut keluarga Apliana, kata Dokter, pasien kembali sakit baru dalam waktu dua hari dengan rasa nyeri ulu hati dan diare. Sesuai tindakan yang kami lakukan tidak ada tanda-tanda kegawatdaruratan,” ungkapnya

Menurut dokter Yudis yang melakukan penanganan awal saat itu, menjelaskan, bahwa “Berdasarkan catatan medis bahwa pasien yang bersangkutan baru satu kali datang berobat di Puskesmas pada tanggal 28 Juni 2024 dengan keluhan nyeri ulu hati. Dan pada saat itu kami berikan obat sesuai keluhan pasien dan kami pesan kepada pasien jika tidak ada perubahan, maka segera datang lagi di Puskesmas.” kata Yudis

Lebih lanjut Yudis, pasien datang di tanggal 22 Juli 2024, sebulan kemudian.

“Selama ini pasien tidak pernah datang lagi, pasien tersebut baru datang di tanggal 22 Juli 2024. Awalnya keluarga pasien tidak mengakui bahwa selama ini selalu bawa di dukun. Setelah saya cek, di perut pasien terdapat Siring Pinang seperti obat herbal, barulah keluarga pasien mengakui bahwa selama ini pasien berobat di dukun. Menurut pengakuan keluarga pasien, kata Dokter Yudis, stelah sekian lama di dukun tidak ada perubahan dan tidak bisa ditangani, dukun minta keluarga pasien untuk bawa di Puskesmas.” ungkapnya.

Yudis menyebutkan, pada saat pasien tiba di Puskesmas Gaura pihaknya melakukan penanganan awal dan kondisi pasien, kata Dokter, semuanya stabil dan tidak ada tanda kegawatdaruratan.

Yudis juga mengatakan, setelah melakukan pemeriksaan fisik terhadap pasien, ia juga menyarankan kepada keluarga pasien agar pasien tidak dibawa ke dukun.

“Setelah saya melakukan pemeriksaan fisik, saya yang menyarankan pasien tidak bisa lagi bawa di dukun. Harus dengan dokter spesialis untuk tindakan USG. Tetapi kalau bawa di Dokter spesialis, karena BPJS belum aktif saat ini, saya menjelaskan bahwa di sana ada tarifnya, kalau pasien bawa langsung ke dokter spesialis sekarang, tinggal memilih apakah aktifkan dulu BPJS atau bawa pasien langsung di dokter spesialis. Setelah itu, saya tetap melakukan tindakan medis dengan memberikan obat dan infus kepada pasien. Dan pada saat itu tidak ada keluarga yang minta rujukan hingga sampai pukul 13.00 WITA.” jelas Yudis.

Sementara itu, Yublina Nunu, perawat Puskesmas Gaura yang menerima pasien pagi itu, menyampaikan bahwa tidak pernah menolak bagi siapapun yang membutuhkan rujukan.Ia juga menyampaikan bahwa selama ini tidak pernah minta uang dari pasien yang tidak menggunakan BPJS jika belum dilakukan penanganan.

“Pada saat Apliana tiba di Puskesmas, tidak ada permintaan rujukan dari keluarga. Sehingga kami tetap melakukan tindakan medis sesuai diagnosa dari ibu dokter, kami hanya menjelaskan terkait keaktifan BPJS.” katanya

Menurut Sara Pedi, petugas Puskesmas yang dinas malam saat itu, sekira pukul 19.30, suami pasien meminta kepada petugas medis untuk sementara pergi membawa Apliana di rumah keluarga terdekat. Atas permintaan suami Apliana, sehingga petugas medis yang bertugas saat itu mengindahkan
permintaan tersebut. Namun, kata Sara, satu jam kemudian, Apliana di bawa pulang di Puskesmas dalam kondisi kritis, namun saat melakukan pemeriksaan korban sudah tak bernyawa (meninggal dunia) pada pukul 20.30 WITA.

Sementara keluarga Apliana mengaku bahwa petugas medis meminta untuk membayar secara cash, sebab jika tidak, maka tidak diberi cairan infus dan obat.

“Kalau kamu tidak bayar, kami tidak pasang infus dan tidak kasih obat. Soalnya sekarang ini sudah peraturan baru,” terang Elsa, salah seorang anggota keluarga Almarhum Apliana, menirukan kata-kata petugas medis di Puskesmas Gaura saat itu.

“Jadi kami siap bayar sudah. Baru dorang segera ambil infus dan kasih obat, sambil kami minta bantuan ke salah satu keluarga yang ada di kota untuk kasi aktifkan dia punya BPJS kesehatan,” tuturnya menambahkan.

Sekitar pukul 15:00 wita, pihak keluarga menerima informasi dari kota Waikabubak, bahwa NIK Apliana sudah diaktifkan sebagai pengguna manfaat BPJS.

Mengetahui hal itu, Elsa lantas meneruskan informasi itu kepada petugas medis dengan harapan rekomendasi rujuk segera diterbitkan. Namun, petugas malah tidak menindaklanjuti dan justru meminta untuk ditunda keesokkan harinya.

“Ibu niknya sudah aktif. Saya bilang begitu. Jadi dia bilang, iya nanti tunggu besok pagi datang 1 orang begitu cek lagi NIKnya kalau sudah aktif tinggal ambil rujukan sudah begitu,” tutur Elsa meniru percakapannya dengan petugas medis.

Pihak medis beralasan, waktu pembukaan loket sudah ditutup pada pukul 12:00, sehingga baru akan dilakukan pada keesokan harinya.

“Jadi kami bertahan saja sudah, karena katanya aturan di Puskesmas begitu. Kami terpaksa mau tunggu besoknya sesuai kata petugas,” tukasnya.” ujarnya.

Elsa juga menyampaikan, sekira pukul 19.00 kami diminta untuk pulang karena cairan infus sudah habis, karena sesuai instruksi medis sebelumnya, jika cairan infus sudah habis boleh pulang, sehingga Elsa yang saat itu sedang ambil makan malam untuk pasien, ditelpon oleh suami Apliana agar segera menjemput mereka menuju rumah keluarga yang ada di sekitar Puskesmas.

“Saat itu saya dapat telpon dari suaminya Apliana untuk pulang kembali di Puskesmas, bahwa cairan infus sudah habis supaya kita segera pulang. Dan saat itu saya langsung kembali di Puskesmas. Sesampainya di puskesmas Apliana bersama suami sudah di menunggu di luar di depan Puskesmas, sehingga kami langsung bawa pulang Apliana di rumah keluarga terdekat,” ucapnya

“Setelah tiba di rumah keluarga tempat kami ambil bubur makan malam, satu jam kemudian, penyakit Apliana kembali kumat sehingga kami kembali ke Puskesmas menggunakan motor dengan tujuan mendapat pertolongan medis. Waktu saya sampai di Puskesmas, saya tidak dapat nafas terakhirnya Apliana.” terang Elsa.***

Terima Kasih sudah membaca berita/artikel kami. Terus dukung kami dengan cara berdonasi ke Rek Bank NTT: 2513684625