“Kalau polisi ada, lalu lintas lebih tertib. Hujan pun mereka tetap kerja. Ini contoh polisi yang dekat dengan rakyat,” katanya.
Mengatur lalu lintas mungkin terlihat sebagai tugas rutin. Namun di balik rutinitas itu, tersimpan komitmen menjaga keselamatan banyak orang—pedagang, pembeli, pengemudi, dan pejalan kaki—agar bisa pulang dengan selamat.
Aipda Usman dan Brigpol Aman tidak mencari perhatian. Mereka hanya menjalankan amanah negara: hadir, menjaga, dan melayani masyarakat dalam situasi apa pun.
Hujan yang mengguyur mereka menjadi simbol ujian kesetiaan pada tugas. Ketika sebagian orang memilih berteduh, mereka memilih tetap berdiri di jalan.
Dari tindakan-tindakan sederhana seperti inilah kepercayaan publik terhadap institusi kepolisian tumbuh. Bukan dari retorika, tetapi dari kehadiran yang konsisten dan nyata.
Polri Presisi tidak hanya berbicara tentang sistem dan strategi, tetapi juga tentang kepekaan sosial—tentang polisi yang mampu membaca denyut kehidupan masyarakat.
Di Pasar Inpres Larantuka, pagi itu, hujan menjadi saksi bahwa Polri hadir bukan hanya sebagai penegak hukum, tetapi sebagai bagian dari masyarakat itu sendiri—mengayomi, melindungi, dan melayani dengan hati.*(Ell).
|
