NTTKreatif.com,Larantuka – Di tengah hujan dan kepadatan kendaraan jelang Natal, kepolisian memilih tetap hadir di ruang paling sibuk kota. Pasar Inpres Larantuka, Kabupaten Flores Timur, menjadi saksi bagaimana Polri menjalankan perannya secara presisi dan humanis—bukan lewat kata-kata, melainkan melalui kehadiran nyata di lapangan.
Dua anggota kepolisian dari Satuan Lalu Lintas yakni Aipda Usman Sina dan Brigpol Aman, berdiri mengatur arus lalu lintas di sekitar pasar yang dipadati kendaraan dan pejalan kaki. Hujan mengguyur tanpa jeda, seragam mereka basah, namun perhatian mereka tak pernah lepas dari setiap pergerakan di jalan.
Menjelang perayaan Natal, Pasar Inpres Larantuka menjadi pusat aktivitas warga. Lonjakan kendaraan kerap membuat kawasan ini rawan kemacetan dan kecelakaan. Dalam situasi seperti itulah kehadiran polisi menjadi krusial—menjaga keteraturan agar aktivitas warga tetap berjalan aman.
Apa yang dilakukan dua polisi tersebut mencerminkan semangat Polri Presisi : prediktif dalam membaca situasi, responsif dalam bertindak, dan bertanggung jawab dalam pelayanan. Kehadiran mereka di tengah hujan adalah bentuk antisipasi atas meningkatnya mobilitas masyarakat.
Lebih dari itu, tindakan mereka menghadirkan wajah Polisi Humanis —polisi yang bekerja tidak dengan jarak, tetapi dengan empati. Polisi yang hadir di titik-titik kehidupan warga, bahkan ketika kondisi tidak nyaman.
Maria, seorang ibu rumah tangga yang tengah berbelanja kebutuhan Natal, mengaku merasa lebih tenang.
“Kalau lihat polisi tetap di jalan meski hujan, kami merasa aman. Itu membuat kami percaya,” ujarnya.
Sementara Yusuf, pengemudi ojek yang sehari-hari mangkal di sekitar pasar, juga merasakan hal serupa.
“Kalau polisi ada, lalu lintas lebih tertib. Hujan pun mereka tetap kerja. Ini contoh polisi yang dekat dengan rakyat,” katanya.
Mengatur lalu lintas mungkin terlihat sebagai tugas rutin. Namun di balik rutinitas itu, tersimpan komitmen menjaga keselamatan banyak orang—pedagang, pembeli, pengemudi, dan pejalan kaki—agar bisa pulang dengan selamat.
Aipda Usman dan Brigpol Aman tidak mencari perhatian. Mereka hanya menjalankan amanah negara: hadir, menjaga, dan melayani masyarakat dalam situasi apa pun.
Hujan yang mengguyur mereka menjadi simbol ujian kesetiaan pada tugas. Ketika sebagian orang memilih berteduh, mereka memilih tetap berdiri di jalan.
Dari tindakan-tindakan sederhana seperti inilah kepercayaan publik terhadap institusi kepolisian tumbuh. Bukan dari retorika, tetapi dari kehadiran yang konsisten dan nyata.
Polri Presisi tidak hanya berbicara tentang sistem dan strategi, tetapi juga tentang kepekaan sosial—tentang polisi yang mampu membaca denyut kehidupan masyarakat.
Di Pasar Inpres Larantuka, pagi itu, hujan menjadi saksi bahwa Polri hadir bukan hanya sebagai penegak hukum, tetapi sebagai bagian dari masyarakat itu sendiri—mengayomi, melindungi, dan melayani dengan hati.*(Ell).
|
