Sementara itu, Tarsisius Karolus Koda Piran, salah satu mahasiswa KKN dari IKTL, mengaku bangga bisa berkontribusi langsung dalam aksi pelestarian tersebut.
“Kegiatan ini adalah bentuk tanggung jawab kami sebagai mahasiswa untuk turut serta menjaga lingkungan. Kami berharap masyarakat juga semakin sadar pentingnya menjaga mata air, apalagi di tengah tantangan perubahan iklim yang semakin terasa dampaknya,” kata Tarsisius.
Dukungan juga datang dari warga setempat. Chale, salah satu warga Desa Lamatuka, mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi air bersih yang semakin langka, dan berharap kegiatan ini bisa membawa perubahan.
“Dulu air di sini melimpah, sekarang makin sulit didapat. Kami berharap usaha pemerintah desa dan mahasiswa ini bisa memastikan anak cucu kami tetap bisa menikmati air bersih. Kami warga siap ikut menjaga lingkungan bersama-sama,” ungkap Chale penuh harap.
Aksi kolaboratif ini menjadi bukti bahwa perlindungan mata air tidak bisa hanya dilakukan oleh pemerintah, tapi harus melibatkan semua elemen masyarakat, termasuk dunia pendidikan. Kegiatan ini juga diharapkan menjadi contoh inspiratif bagi desa-desa lain dalam menghadapi krisis air bersih dan ancaman perubahan iklim.*(Ell)
|
