Dinas Lingkungan Hidup, argh sudahlah. Tidak bisa diharapkan karena pastinya akan bicara yang normatif. Anggaran kuranglah, kurang personil lah sampai lempar melempar tanggung jawab ke mitra dinas yang lain soal TPA. Sudah biasa dan biasa begitu.
Namun harus diakui ketidaktuntasan mengurus sampah ini juga tidak hanya dilimpahkan ke pemerintah saja tapi juga masyarakat sendiri yang ogah sadar atau malas sadar.
Sisanya baru dunia pendidikan yang gagal menciptakan generasi muda pencinta lingkungan.
Semua larut dalam kebisingan dan hiruk pikuk dunia dengan proses pembiaran yang terlampau jauh hingga lupa kalau dampak sampah itu bisa membuat kesehatan kita menurun.
Butuh Pemimpin yang Superhero Tuntaskan Persoalan Sampah
Kondisi ini pun membuat banyak pihak termasuk penulis sendiri rindu akan sosok pemimpin yang bisa jadi superhero untuk menuntaskan sampah.
Iya setidaknya calon pemimpin yang berani memasukkan urusan sampah semacam ini sebagai misinya.
Wajib? Tentu dan sifatnya harus pastinya. Mengingat sebagai pemimpin bukan hanya semata soal kecerdasan atau hebat tutur katanya tapi juga punya rasa empati pada kepentingan lingkungan di sekitarnya.
Sederhananya kebijakan untuk mengatasi sampah perlu dibuat supaya mendorong kecukupan anggaran sebagai penunjangnya.
Jika tidak maka bermimpilah terus. Jangankan buat pabrik pengolahan sampah, TPA pun bakal jadi pajangan seperti yang sudah-sudah.
Sehingga kita butuh pemimpin yang betul-betul punya konsen juga ke lingkungan untuk memastikan sampah tidak membuat kita malu jadi orang Sumba Barat Daya. ***
|

Tinggalkan Balasan