NTTKreatif, TAMBOLAKA – Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) Provinsi NTT digadang-gadang jadi destinasi baru wisata.

">

Hal ini tidak lepas dari keindahan alam dan budaya yang ditawarkan.

Namun begitu, banyak pekerjaan berat yang menanti untuk mewujudkan mimpi besar tersebut.

Selain infrastruktur pariwisatanya yang perlu dibenahi, persoalan sampah pun masuk daftar prioritas.

Mengingat, hingga sekarang Pemerintah Daerah Kabupaten Sumba Barat Daya seperti kewalahan mengatasi persoalan yang satu ini.

Ketiadaan TPA disinyalir jadi masalah utama yang membuat warga masyarakatnya seolah ‘senang’ membuat sampah di sejumlah titik termasuk di jalan utama.

Tidak mengherankan, jika pemandangan jalanan menuju Kota Waikabubak hingga ke arah Kantor Bupati di Kadul dipenuhi dengan sampah yang berserakan tidak terurus.

Bahkan di beberapa titik seperti di jembatan, bau busuk menyengat pun kerap tercium akibat bangkai hewan yang dibiarkan begitu saja.

Ironis memang. Namun begitulah kondisi salah satu kabupaten yang disebut-sebut bakal jadi rol model kota pariwisata dan ekonomi di masa depan.

Kehilangan Generasi Cinta Lingkungan

Menariknya, sebelum kondisi carut marut seperti sekarang nyatanya persoalan sampah memang sudah jadi perhatian sejumlah LSM dan komunitas.

Salah satunya Komunitas Peduli Lingkungan atau Ko Dukung yang saban hari selalu terjun ke lapangan untuk membersihkan sampah yang dibuang masyarakat sekaligus memberikan edukasi kepada masyarakat untuk terus menjaga lingkungan di sekitarnya.

Anehnya, sejak gerakan Ko Dukung itu vakum sampah malah bersiweran tidak karuan.

Begitupun dengan petugas sampah. Jarang terlihat lagi dengan pakaian kuningnya memenuhi kota memungut sampah bersama truck sampah seperti tahun-tahun sebelumnya.

Dinas Lingkungan Hidup, argh sudahlah. Tidak bisa diharapkan karena pastinya akan bicara yang normatif. Anggaran kuranglah, kurang personil lah sampai lempar melempar tanggung jawab ke mitra dinas yang lain soal TPA. Sudah biasa dan biasa begitu.

Namun harus diakui ketidaktuntasan mengurus sampah ini juga tidak hanya dilimpahkan ke pemerintah saja tapi juga masyarakat sendiri yang ogah sadar atau malas sadar.

Sisanya baru dunia pendidikan yang gagal menciptakan generasi muda pencinta lingkungan.

Semua larut dalam kebisingan dan hiruk pikuk dunia dengan proses pembiaran yang terlampau jauh hingga lupa kalau dampak sampah itu bisa membuat kesehatan kita menurun.

Butuh Pemimpin yang Superhero Tuntaskan Persoalan Sampah

Kondisi ini pun membuat banyak pihak termasuk penulis sendiri rindu akan sosok pemimpin yang bisa jadi superhero untuk menuntaskan sampah.

Iya setidaknya calon pemimpin yang berani memasukkan urusan sampah semacam ini sebagai misinya.

Wajib? Tentu dan sifatnya harus pastinya. Mengingat sebagai pemimpin bukan hanya semata soal kecerdasan atau hebat tutur katanya tapi juga punya rasa empati pada kepentingan lingkungan di sekitarnya.

Sederhananya kebijakan untuk mengatasi sampah perlu dibuat supaya mendorong kecukupan anggaran sebagai penunjangnya.

Jika tidak maka bermimpilah terus. Jangankan buat pabrik pengolahan sampah, TPA pun bakal jadi pajangan seperti yang sudah-sudah.

Sehingga kita butuh pemimpin yang betul-betul punya konsen juga ke lingkungan untuk memastikan sampah tidak membuat kita malu jadi orang Sumba Barat Daya. ***

 

 

 

 

 

 

Terima Kasih sudah membaca berita/artikel kami. Terus dukung kami dengan cara berdonasi ke Rek Bank NTT: 2513684625