Kuliner khas daerah yang dianggap tidak populer, justru laris di luar negeri bahkan orang-orang dari luar negeri berlomba lomba datang untuk melihat budaya kita. Jika budaya kita bisa dihargai oleh orang asing, mengapa kita sendiri lambat dalam melestarikannya,

Harusnya Upaya pelestarian budaya lokal harus dimulai dari diri kita sendiri, keluarga, sekolah, dan komunitas. Di rumah, orang tua perlu kembali mengajarkan bahasa daerah kepada anak-anaknya, memperkenalkan cerita rakyat, serta membiasakan makanan tradisional sebagai bagian dari keseharian.

">

Di sekolah, pelajaran muatan lokal tidak boleh dianggap sebagai pelengkap semata, tetapi harus menjadi sarana utama untuk menanamkan kecintaan terhadap budaya sendiri sejak dini. Pemerintah pun punya peran penting dalam membuat regulasi dan program yang mendorong pelestarian budaya, misalnya dengan memberikan ruang bagi seniman lokal, mendukung festival budaya, dan memfasilitasi promosi budaya daerah ke Tingkat nasional hingga Tingkat internasional

Media sosial dan teknologi digital juga dapat menjadi alat yang sangat ampuh dalam memperkenalkan budaya lokal ke generasi muda. Banyak komunitas kreatif yang sudah mulai menggunakan platform digital untuk mengenalkan tarian daerah, alat musik tradisional, bahkan cerita rakyat dalam bentuk animasi atau konten visual yang menarik. Inilah bukti bahwa budaya lokal tidak harus kuno, asalkan dikemas dengan cara yang menarik dan sesuai dengan zaman.

Globalisasi memang tidak bisa dihindari, tapi kita tidak boleh tenggelam di dalam arusnya. Justru di tengah derasnya pengaruh global, kita harus semakin memperkuat akar budaya lokal sebagai identitas dan pegangan hidup. Kita tidak harus menolak globalisasi, tapi kita harus cerdas dalam menyaring nilai-nilai yang masuk. Budaya luar yang baik bisa kita adopsi, tetapi tanpa meninggalkan nilai-nilai luhur budaya kita sendiri.

Akhirnya, mempertahankan budaya lokal bukanlah bentuk anti-globalisasi, tetapi bentuk keberanian untuk menjadi diri sendiri di tengah dunia yang semakin seragam. Budaya lokal adalah pelita dalam gelapnya modernitas tanpa arah.

Jika kita tidak menjaganya hari ini, maka generasi mendatang hanya akan mengenal budayanya dari museum, bukan dari kehidupan nyata. Jadi, Dalam pertarungan antara budaya lokal dan globalisasi, kitalah penentunya: apakah akan tetap berdiri sebagai bangsa berbudaya, atau hanyut tanpa akar dalam arus global. ***

Terima Kasih sudah membaca berita/artikel kami. Terus dukung kami dengan cara berdonasi ke Rek Bank NTT: 2513684625