Oleh: Rifaldinus Afeanpah
Dewasa ini, budaya lokal menghadapi ancaman yang nyata. Tidak bisa dipungkiri, globalisasi telah mengubah segalanya mulai dari cara kita hidup, berpikir, bahkan berbudaya.
Tradisi yang hidup berabad-abad lalu dan diwariskan turun-temurun perlahan terkikis, dan digantikan oleh kebiasaan baru yang lebih “modern” atau lebih tepatnya, lebih asing. Harusnya kita sadar bahwa budaya kita adalah bentuk ungkapan jati diri kita.
Berdasarkan penelitian dari Thomas Tokan Pureklolon dalam bukunya Globalisasi Politik Politik Modern Menuju Negara Kesejahteraan menyebutkan bahwa globalisasi menyebabkan hilangnya identitas budaya lokal karena masuknya pengaruh asing yang kuat, serta para ahli yang lain juga berpendapat hal yang sama mengenai pengaruh globalisa si terhadap budaya lokal yang sangat pesat.
UNESCO telah mengidentifikasi beberapa aspek negatif dari globalisa si terhadap budaya seperti homogenisa si budaya, di mana budaya lokal tergeser oleh budaya dominan dari negara-negara besar, dan gobalisasi dapat mendorong gaya hidup yang lebih individualistis dan konsumtif, di mana hal tersebut dapat mengurangi nilai-nilai kebersamaan.
Lihatlah disekitar kita saat ini bagaimana dampak galobalisasi terhadap anak muda Dimana mereka lebih mengenal budaya pop luar negeri dibandingkan warisan seni dan tradisi dari leluhur mereka.
Bahasa daerah semakin jarang digunakan, bahkan dianggap kuno. Pakaian tradisional hanya dikenakan saat perayaan tertentu, bukan lagi menjadi pakaian harian, dan rambut mereka yang awalnya hitam kini beruba menjadi warna warni, ini adalah bukti nyata yang tidak bisa di pungkiri kebenarannya.
Ironisnya, di saat kita mulai melupakan budaya sendiri, negara-negara lain justru mengagumi dan bahkan mengadaptasi elemen budaya kita. Batik da pakaian tradiseonal yang dulu dianggap ketinggalan zaman, kini dikenakan oleh orang-orang di berbagai belahan dunia.
Kuliner khas daerah yang dianggap tidak populer, justru laris di luar negeri bahkan orang-orang dari luar negeri berlomba lomba datang untuk melihat budaya kita. Jika budaya kita bisa dihargai oleh orang asing, mengapa kita sendiri lambat dalam melestarikannya,
Harusnya Upaya pelestarian budaya lokal harus dimulai dari diri kita sendiri, keluarga, sekolah, dan komunitas. Di rumah, orang tua perlu kembali mengajarkan bahasa daerah kepada anak-anaknya, memperkenalkan cerita rakyat, serta membiasakan makanan tradisional sebagai bagian dari keseharian.
Di sekolah, pelajaran muatan lokal tidak boleh dianggap sebagai pelengkap semata, tetapi harus menjadi sarana utama untuk menanamkan kecintaan terhadap budaya sendiri sejak dini. Pemerintah pun punya peran penting dalam membuat regulasi dan program yang mendorong pelestarian budaya, misalnya dengan memberikan ruang bagi seniman lokal, mendukung festival budaya, dan memfasilitasi promosi budaya daerah ke Tingkat nasional hingga Tingkat internasional
Media sosial dan teknologi digital juga dapat menjadi alat yang sangat ampuh dalam memperkenalkan budaya lokal ke generasi muda. Banyak komunitas kreatif yang sudah mulai menggunakan platform digital untuk mengenalkan tarian daerah, alat musik tradisional, bahkan cerita rakyat dalam bentuk animasi atau konten visual yang menarik. Inilah bukti bahwa budaya lokal tidak harus kuno, asalkan dikemas dengan cara yang menarik dan sesuai dengan zaman.
Globalisasi memang tidak bisa dihindari, tapi kita tidak boleh tenggelam di dalam arusnya. Justru di tengah derasnya pengaruh global, kita harus semakin memperkuat akar budaya lokal sebagai identitas dan pegangan hidup. Kita tidak harus menolak globalisasi, tapi kita harus cerdas dalam menyaring nilai-nilai yang masuk. Budaya luar yang baik bisa kita adopsi, tetapi tanpa meninggalkan nilai-nilai luhur budaya kita sendiri.
Akhirnya, mempertahankan budaya lokal bukanlah bentuk anti-globalisasi, tetapi bentuk keberanian untuk menjadi diri sendiri di tengah dunia yang semakin seragam. Budaya lokal adalah pelita dalam gelapnya modernitas tanpa arah.
Jika kita tidak menjaganya hari ini, maka generasi mendatang hanya akan mengenal budayanya dari museum, bukan dari kehidupan nyata. Jadi, Dalam pertarungan antara budaya lokal dan globalisasi, kitalah penentunya: apakah akan tetap berdiri sebagai bangsa berbudaya, atau hanyut tanpa akar dalam arus global. ***
|
