NTTKreatif, TAMBOLAKA – Tahapan pencoblosan dalam pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD), kini telah berakhir.

Masing-masing pendukung pasangan calon Bupati dan calon Wakil Bupati bereforia setelah menentukan pilihannya.

">

Namun begitu, hal tidak terduga kini mengejutkan publik.

Salah satu jalan utama menuju kampung yang dilalui Warga Dusun Pancasila, Desa Kabali Dana, Kecamatan Wewewa Barat, SBD, ditutup menggunakan bambu.

Hal tidak terpuji ini, diduga dilakukan oleh beberapa orang pendukung salah satu calon Bupati dan calon Wakil Bupati Kabupaten Sumba Barat Daya.

Imbasnya, warga dusun pancasila itu kesulitan mencari jalan alternatif yang dilalui ketika hendak bepergian.

Ketika ditemui salah satu kepala keluarga di Dusun Pancasila yang enggan disebut namanya, mengeluhkan penutupan jalan utama itu dilakukan.

Sementara itu menurutnya, jalan itu menjadi jalan utama yang diakses warga Dusun Pancasila.

Kepala keluarga itu menyebut hal tidak terpuji ini dilakukan usai pencoblosan pada tanggal 27/11/2024 lalu.

“Waktu habis pencoblosan langsung ditutup. Saya ada saja di rumah tetapi saya tidak membuat perlawanan. Saya memilih diam,” kata kepala keluarga yang enggan disebut namanya ketika ditemui, pada Minggu 01/12/2024 kemarin.

Disisi lain, sebelum masa pencoblosan akhirnya tiba, kepala keluarga itu mengaku salah satu anggota keluarganya didatangi oleh salah satu tim pasangan calon Bupati dan calon Wakil Bupati SBD.

Dirinya menyebut, anggota keluarganya di iming-imingi sebuah meteran listrik agar memilih paslon yang disebut salah satu tim itu.

Kendati demikian, tawaran dari salah satu tim paslon tersebut tidak dihiraukan.

“Dia ketemu adik saya, dia ajak dukung calon lain dan dijanjikan meteran biar kalah atau menang. Tapi adik saya tidak mau dan tetap memilih sesuai suara hatinya. Kami semua memilih Ratu Angga,” ungkapnya.

Kejadian ini menarik perhatian publik, salah satu warga Dusun Pancasila, Desa Kabali Dana, Samuel Bili Dairo dengan tulus hati memberikan lahannya untuk dibuatkan jalan baru.

“Ketika saya dengar, saya langsung ajak untuk buat jalan baru dilahan saya. Kasihan hanya karena beda politik harus tutup jalan,” kesalnya.

Samuel menyebut, lahan tempat dibukakan jalan baru itu adalah tanah miliknya. Tidak ingin konflik itu berkepanjangan, dirinya dengan iklas mengajak tiga kepala keluarga dan warga lainnya untuk bergotong royong dalam pembuatan jalan baru.

Uniknya, jalan baru yang dibuka itu deberi nama jalan Jalan Ratu Angga atau Jalan Menyalah.

“Kami sepakat kasih nama jalan ini jalan Menyalah atau jalan Ratu Angga,” ungkapnya.

Usai jalan Ratu Angga itu dibuka, Samuel dan warga Dusun Pancasila Desa Kabalidana berharap jalan tersebut dapat disiram sirtu supaya dapat dilalui dengan rasa nyaman.***

Terima Kasih sudah membaca berita/artikel kami. Terus dukung kami dengan cara berdonasi ke Rek Bank NTT: 2513684625