Ia secara tegas mengaitkan nilai puasa dengan jihad melawan korupsi dan krisis moral. Menurutnya, orang yang sukses berpuasa adalah mereka yang mampu menahan diri dari harta yang batil.
“Tindakan korup pasti merusak kesucian jiwa dan menghancurkan peradaban. Jihad kita saat ini adalah memperjuangkan kejujuran dan keadilan di tengah masyarakat,” tegasnya di hadapan jamaah yang menyimak dengan takzim.
Di akhir pesannya, Ihsan mengajak warga untuk menjadikan kelembutan hati sebagai modal sosial membangun bangsa.
Ia berharap Idul Fitri menjadi momentum untuk memperkuat keberpihakan kepada kaum yang lemah (mustad’afin).
“Jangan saling mendzalimi, jangan ada lagi praktik ‘menggunting dalam lipatan’. Mari kita jaga kebersamaan ini agar martabat bangsa tetap tinggi,” pungkasnya.
Ketua MUI Kabupaten Sikka ini juga menjelaskan perbedaan waktu perayaan Idulfitri tahun ini semata-mata karena perbedaan metode penghitungan (hisab).
Meski demikian, ia menekankan bahwa perbedaan tersebut tidak boleh mengurangi nilai ibadah dan persaudaraan antarumat Islam.
“Perayaan hari ini karena metode penghitungan, namun esensi dan tujuannya tetap sama. Kami juga mengajak seluruh umat yang merayakan hari ini untuk tetap menghargai saudara-saudara Muslim lainnya yang saat ini masih menjalankan ibadah puasa,” ujarnya lagi.***
|


7 Komentar
Komentar ditutup.