Oleh: Bernabas  Haki

Transformasi merupakan sebuah kata yang berasal dari bahasa Latin “transformare” di mana kata “trans” memiliki arti melintasi, melampaui, atau berubah dari bentuk yang satu ke bentuk yang lain. Sedangkan kata “formare” berarti membentuk. Sehingga secara etimologis trasformasi berarti suatu peralihan dari bentuk yang satu ke bentuk yang lain.
Melihat arti dan asal-usul kata ini, maka transformasi digital merupakan suatu tata perubahan dalam hidup manusia baik bekerja, belajar, membangun komunikasi, maupun dalam berintraksi dengan sesama.
Di era yang semakin sarat akan kemajuan teknologi dan komunikasi hampir seluruh aspek kehidupan dipermudah dengan kecanggihan teknologi. Imbasnya, manusia seakan tak lagi berfokus menggunakan tenaga, karena hampir seluruh pekerjaan dibantu oleh kemajuan teknologi.
Dengan hadirnya transformasi digital ini membawa banyak peluang namun juga menyimpan dan menyisakan tantangan yang harus diperhatikan oleh orang-orang yang menggunakannya dan lebih khususnya para kaum muda.
Analisis Peluang
Kehadiran teknologi yang ditandai dengan adanya transformasi digital memberikan suatu peluang yang besar bagi kaum muda khususnya generasi milenial dan generasi Z dimana keberadaannya membuat kaum muda menjadi digital native.
Digital native sendiri adalah orang-orang yang lahir bersama dengan perkembangan teknologi dimana kehadirannya memberikan peluang transformasi digital seperti di dunia pendidikan yang memberikan aspek yang luas bagi kaum muda dalam belajar di dunia internet melalui ruangguru, google classroom, googlr scholar, dan caurseru.
Platfrom-platfrom ini mempermudah kaum muda terutama mereka yang ada di daerah terpencil.  Hal ini karena dengan adanya platfrom di media internet memudahkan orang untuk mengakses bahan-bahan belajar, sehingga semua orang dalam hal ini adalah kaum muda mendapatkan Pendidikan yang setara serta dengan kualitas yang sama juga.
Peluang transformasi digital bukan hanya terjadi dalam dunia Pendidikan, tetapi juga terjadi dalam sektor ekonomi, seperti e-commerce, startup teknologi, dan ekonomi berbasis digital yang memberikan suatu pelajaran akan keterampilan bagi kaum muda untuk menjadi wirausahawan muda yang kreatif, inofatif, sehingga kelak menjadi orang yang sukses.
Selain peluang dalam dunia Pendidikan dan ekonomi, maka peluang yang terakhir adalah peluang partisipasi sosial dan politik. Hadirnya berbagai bentuk fitur di platfrom membuka ruang partisipasi publik yang luas. Maksudnya, kaum muda mampu terlibat dalam masalah-masalah sosial seperti masalah lingkungan, masalah krisis pangan, dan masalah kemanusiaan lainnya, dimana kaum muda bebas untuk memberikan saran, usulan, ataupun solusi tanpa perlu berbicara secara langsung, tetapi dengan mamakai platfrom-platfrom yang ada dalam dunia internet.
Peluang-peluang yang ada diatas hendaknya menunjukan bahwa kaum muda yang hidup beriringan dengan teknologi akan memberikan banyak keuntungan. Apalagi dengan adanya transformasi digital memberikan banyak kemudahan bagi kaum muda.
Menurut UNESCO (2023), menyatakan bahwa hadirnya teknologi digital memberikan sebuah peluang pembelajaran inklusif dan fleksibel, terutama saat masa pandemi covid-19.
Dari pendapat ini hendak menyatakan bahwa sebuah transformasi digital memberikan banyak keuntungan, terutama bagi mereka yang adalah kaum muda, kaum yang masuk dalam generasi milenial dan generasi Z yang hidup berdampingan dengan teknologi.
Analisis Tantangan
Melihat bahwa hadirnya transformasi digital di era ini, terutama bagi kaum muda yang adalah masyarakat pemakai atau pengguna digital ini, tentu di satu sisi ada keuntunganya dan juga tantangannya yang bila tak disikapi dan dihadapi dengan bijak akan berdampak buruk bagi kaum muda.
Dalam laporan we are social dan Hootsuite (2024), mensurvei bawah 98% remaja Indonesia setiap hari memakai internet setiap harinya. Data ini menandakan bahwa kaum muda berada di garis depan dalam era digitalisasi yang muda bergantung pada teknologi.
Dampaknya, tentu pada munculnya digital addiction, penurunan kemampuan komunikasi tatap muka, lebih banyak menyendiri, dan munculnya berita-berita palsu atau hoax. Masalah yang lebih besar lain adalah ketimpangan dan kesenjaan antara kaum muda yang mempunyai versi teknologi lebih bagus dengan orang yang mempunyai teknolgi yang kurang bagus. Ketimpangan ini disebut digital divide. Dalam data Badan Pusat Statistik (BPS), mencatat bawah masih terdapat skitar 15% pelajar di daerah 3T ( Tertinggal, Terdepan, dan Terluar) yang belum terjangkau internet secara memadai pada tahun 2023.
Data-data di atas hendak menggambarkan bahwa kaum muda yang adalah sasaran dari era digitalisasi yang tentunya akan ada membawa dampak buruk serta dampak yang baik. Dampak yang buruk karena transformasi digital terkadang menghilangkan antara dunia nyata dan dunia virtual. Kaum muda dituntut dan sering menghadapi tantang untuk menampilkan citra diri yang ideal di dunia maya, sehingga menciptakan sebuah gejala fear of missing aut (fomo) serta budaya perbandingan sosial meningkat, diantara kalangan remaja.
Tantangan yang lain adalah ancaman keamana siber. Hal ini terjadi karena kaum muda belum mampu memahami pentingnya perlindungan data pribadi, sehingga adanya peretasan, pencurian identitas, atau yang lebih ekstrim adalah eksploitasi tubuh secara online. Dalam laporan dari Kaspersey (2023) mencatat bawah kelompok usia remaja merupakan salah satu target utama serangan phishing dan malware. Maka dari itu kesadaran tentang etika dan keamanan digital sangat dibutuhkan untuk melindungi generasi muda di era transformasi digital saat ini.
Penutup
Kehadiran teknologi di era saat ini memberikan banyak manfaat dan juga memberikan tantangan. Dua bentuk hal ini akan senantiasa menghiasi perkembangan teknologi. Tantangan ini lebih disepsifikan bagi kaum muda. Di mana kaum muda adalah kaum yang menjadi pemakai terbanyak teknologi dalam hal ini adalah internet.
Karena itu, dengan kehadiran tranformasi digital, diharapkan kaum muda harus mampu dengan bijak menggunakan teknologi sehingga dapat memberikan keuntungan yang sebesar-besarnya dalam kehidupan setiap hari terutama dalam membangun masa depan. Maka dari itu jadikanlah transformasi digital sebagai temapat untuk menemukan peluang di masa depan. ***
Penulis adalah mahasiswa Filsafat pada Kampus Universitas Katolik Widya Mandira Kupang yang sedang menempuh pendidikan calon di Keuskupan Agung Kupang.
Terima Kasih sudah membaca berita/artikel kami. Terus dukung kami dengan cara berdonasi ke Rek Bank NTT: 2513684625