Larantuka, NTTKreatif — Aroma tak sedap tercium dari proses tender salah satu paket jalan strategis di Kabupaten Flores Timur (Flotim). Proyek bernilai miliaran rupiah yang menjadi bagian dari program 100 hari kerja Bupati dan Wakil Bupati terpilih, Anton Doni Dihen dan Ignasius Boli Uran, ini diduga kuat sarat spekulasi dan minim transparansi.
Paket proyek yang dimaksud adalah rekonstruksi atau peningkatan struktur jalan Sp Lamanabi–Latanliwo–Tone, dan saat ini sedang berada di ujung proses lelang. Namun, di balik layar, desas-desus menyebut bahwa “pemenangnya” sudah ditentukan jauh sebelum proses resmi berakhir.
Informasi mengejutkan datang dari sejumlah sumber terpercaya. Seorang pejabat Pemkab Flores Timur diduga secara terang-terangan membocorkan nama calon pemenang kepada unsur Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), jauh sebelum tahapan pembuktian kualifikasi maupun pengumuman resmi pemenang dilakukan.
Yang lebih mencengangkan, perusahaan yang disebut sebagai pemenang adalah CV Valentin, padahal berdasarkan hasil evaluasi administrasi, teknis, dan harga, perusahaan ini hanya menempati peringkat keempat, dengan nilai penawaran sebesar Rp 10.921.163.307,97 — jauh di atas peserta lainnya.
“Nama CV Valentin sudah disebut-sebut sebagai pemenang, padahal tahapan pembuktian kualifikasi baru dijadwalkan Selasa, 17 Juni,” ujar salah satu sumber, Sabtu (14/6/2025).
Ia juga mengungkapkan adanya indikasi bahwa hanya CV Valentin yang akan dipanggil pada tahap pembuktian, meskipun masih ada tiga perusahaan lain yang dinilai layak dan telah mengajukan penawaran resmi.
Data dari Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) memperkuat kecurigaan publik. Dari 18 pendaftar, hanya empat perusahaan yang mengajukan penawaran. Namun, hasil evaluasi menunjukkan:
1. CV Keynward – Rp 9.753.400.000 (peringkat 1)
2. CV Cahaya Melati – Rp 9.878.000.000
3. CV Rokatenda – Rp 10.423.212.499,06
4. CV Valentin – Rp 10.921.163.307,97 (peringkat 4)
Fakta ini menimbulkan pertanyaan besar: Mengapa perusahaan dengan penawaran tertinggi justru disebut-sebut akan menang? Apakah ini pertanda kuat bahwa proses lelang hanyalah formalitas belaka?
Banyak kalangan menduga kuat adanya permainan “di balik layar” oleh Kelompok Kerja (Pokja) ULP yang menangani proses ini. Ketertutupan informasi dan indikasi pemenangan dini memunculkan kekhawatiran soal akuntabilitas dan integritas pengadaan barang dan jasa di lingkungan Pemkab Flores Timur
Sebelumnya, saat dikonfirmasi oleh wartawan pada Kamis 12 Juni 2025 siang, Asisten Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setda Flotim, Adrianus Lamabela, hanya menyebut bahwa baru lima paket pekerjaan yang telah berjalan hingga pertengahan Juni. Tiga di antaranya adalah paket konstruksi dari program 100 hari kerja yang sedang dalam tahap tender.
Kasus ini menjadi peringatan keras bagi tata kelola pemerintahan di Flores Timur. Jika benar terjadi manipulasi atau pengkondisian, maka ini adalah pengkhianatan terhadap semangat reformasi birokrasi dan prinsip pengadaan yang bersih dan adil.
Masyarakat Flores Timur menunggu ketegasan dan keterbukaan. Akankah Pemkab menjawab dengan bukti transparansi atau malah meneguhkan dugaan adanya skenario gelap di balik proyek jalan miliaran rupiah ini?. (Ell)
|
