NTTKreatif, LARANTUKA – Wajahnya kini mulai dipenuhi garis-garis halus, tanda perjalanan waktu yang tak bisa dilawan.
Rambut yang dulu hitam lebat, kini perlahan memutih, menjadi saksi bisu atas tahun-tahun yang telah berlalu.
Ia adalah ibu, sosok yang dulu selalu kita panggil dengan penuh kegembiraan, yang kini mulai menua seiring berjalannya waktu.
Ibu adalah pilar keluarga yang tak pernah tergoyahkan. Meski usianya terus bertambah, semangat dan kasih sayangnya tak pernah pudar.
Ia selalu menjadi tempat pulang yang hangat, dengan pelukan yang mampu menghilangkan segala lelah dan kesedihan. Senyumnya mungkin tak lagi secerah dulu, tapi ketulusan yang terpancar dari matanya tetap sama, memancarkan cinta yang tak terbatas.
Di usianya yang sekarang, ibu mungkin lebih sering duduk di kursi favoritnya, menikmati secangkir teh hangat sembari mengenang masa-masa lampau.
Tubuhnya tak lagi sekuat dulu, langkahnya tak lagi setegas saat kita masih kecil, namun di balik kerapuhannya, ia masih memiliki kekuatan luar biasa dalam jiwanya.
Setiap kerutan di wajahnya adalah cerita, setiap uban di kepalanya adalah pengalaman, dan setiap langkah yang kini melambat adalah kebijaksanaan yang terus ia kumpulkan selama bertahun-tahun.
Ia tak lagi secepat dulu dalam melakukan pekerjaan rumah, tak lagi setangguh dulu dalam mengurus keluarga, namun cintanya tetaplah sama.
Bahkan, mungkin lebih dalam, lebih tulus, karena ia tahu waktu bersama kita tak lagi banyak seperti dulu.
Menjadi tua bukanlah hal yang mudah, namun ibu selalu menjalani setiap fase hidupnya dengan sabar dan penuh rasa syukur.
Ia mengajarkan kita bahwa meskipun usia bertambah, hati dan pikiran harus tetap muda, tetap penuh dengan harapan dan cinta.
Saat melihat ibu yang kini mulai menua, kita diingatkan betapa berharganya waktu yang kita miliki bersamanya.
Tak ada yang abadi di dunia ini, namun kasih sayang seorang ibu adalah hal yang akan terus hidup dalam hati kita, selamanya.
Ibu mungkin tak lagi bisa berlari mengejar kita seperti dulu, namun cintanya akan selalu mengikuti kita, ke mana pun kita pergi.
Kini, saat ibu mulai menua, adalah waktu bagi kita untuk memberikan cinta dan perhatian yang sama seperti yang telah ia berikan sepanjang hidupnya.
Waktunya untuk menjaga dan merawatnya, seperti ia yang dulu selalu menjaga dan merawat kita. Sosok ibu yang menua adalah pengingat bahwa hidup adalah tentang cinta, tentang memberi, dan tentang menjadi tempat pulang bagi mereka yang kita sayangi. ***
|

Tinggalkan Balasan