NTTKreatif, Larantuka — Dua belas tahun bukan waktu yang sebentar. Ia bisa menghapus harap, bisa pula membunuh mimpi. Tapi bagi Lorens Da Silva, atau yang akrab disapa Om Konco, dua belas tahun adalah ladang kesetiaan—yang ia bajak dengan peluh dan sirami dengan air mata.
Rabu pagi, 25 Juni 2025, lantai aula San Juan, Lebao, menjadi saksi: lelaki yang setia dalam sunyi itu akhirnya dipanggil maju ke depan. Di tangannya, sebuah Surat Keputusan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) dari Pemerintah Kabupaten Flores Timur—akhir dari penantian panjang, awal dari babak baru kehidupan.
“Ini seperti mimpi. Tuhan jawab doa saya dengan cara-Nya yang paling indah,” ucapnya lirih, mata berkaca-kaca, di kediamannya.
Sejak 2012, Om Konco menjalani hari-hari sebagai tenaga sukarela di RSUD dr. Hendrikus Fernandez Larantuka. Tak banyak yang tahu betapa ia bekerja hampir tanpa jeda, mengelilingi rumah sakit sebagai petugas servis, menjaga kantin, menyediakan air panas bagi keluarga pasien, dan hadir di setiap sela keperluan.
Tahun demi tahun berlalu. Usia menua, tenaga menyusut, tapi semangat tak kunjung padam. Pada 2018, ia tercatat sebagai tenaga honorer, meski itu pun belum menjamin masa depan. Setiap pengangkatan ASN diumumkan, ia hanya bisa menggenggam harap—dan menelan kecewa dalam diam.
“Saya sempat berpikir, mungkin tak ada lagi kesempatan. Tapi ternyata, waktu punya jawabannya sendiri. Tuhan tidak pernah lupa,” ujar pria kelahiran Jakarta, 22 Mei 1971 itu.
|
