NTTKreatif, TAMBOLAKA – Publik Sumba dan NTT umumnya belum lama ini dikejutkan dengan kasus dugaan kawin paksa.
Dugaan kawin paksa tersebut mendera Jesika Novanti Geli (18 tahun) warga Weetabula, Kota Tambolaka, Kabupaten Sumba Barat Daya.
Kasus kawin paksa ini sendiri mencuat setelah sebelumnya ada informasi yang diberikan salah satu akun Facebook kepada conten creator Sumba TV dan dipertegas kembali oleh Jesika dalam bentuk rekaman suara.
Dalam rekaman suara tersebut, Jesika nenyebut kalau dirinya dipaksa oleh keluarganya untuk menikah dengan seorang pria yang sudah berumur yang tidak ia kenal sebelumnya.
Sayang, tuduhan tersebut dibantah langsung oleh keluarganya sendiri.
Melalui sang ayah kandung Yulius Adi Papa, Jesika sebutnya adalah pihak yang menginginkan adanya pernikahan adat melalui prosesi peminangan pada tanggal 11 November 2024 lalu itu.
Yulius mengurai kalau di awalnya pihaknya masih berusaha menanyakan kepastian tersebut kepada anaknya dan dijawab kalau anaknya memang ingin menikah.
Malah segala persiapan di acara peminangan tersebut disebut Yulius lagi disiapkan sendiri oleh sang anak.
“Saya dari dulu selalu ikut anak-anak punya mau termasuk Jesika ini. Makanya saat dia minta urus iya kami urus malah dia yang siapkan semua persiapan tersebut mulai dari dekor, pakaian sampai sandal yang mau dikenakan dia dan sang suami,” katanya.
Hal senada pun disampaikan sejumlah saksi lainnya yang ditemui terpisah wartawan belum lama ini.
Termasuk dua juru bicara yang mengurus prosesi adat peminangan tersebut, Philipus Paila Rege dan Agustinus Nani Rege.
Menurut keduanya saat penyelenggaraan adat peminangan tersebut tidak ada tanda-tanda Jesika tertekan sedikit pun.
Malah, saat itu kata keduanya Jesika terlihat senang.
“Kemudian ketika sudah samakan pendapat antara kedua bela pihak, sudah seiya sekata, maka untuk menyaksikan oleh banyak orang, mereka berdua berpelukan dan berjabat tangan. Perempuan berikan kain kepada laki-laki, laki-laki juga berikan parang hulu tanduk kepada perempuan. Ini disaksikan oleh umum dan Jesika pun tidak keberatan saat itu,” katanya.
Pertemuan Bersama Jadi Titik Balik
Pasca kasus tersebut menjadi viral dan Jesika mendapatkan perlindungan dari PPA Kabupaten Bima, Selasa lalu, Pemerintah Kabupaten SBD melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan pun langsung bereaksi.
Mereka langsung menggelar pertemuan bersama para pihak termasuk keluarga Jesika dan sang suami di Kelurahan Weetabula.
Dalam pertemuan tersebut, pihak pemerintah ingin mendengar langsung keterangan pihak keluarga kedua belah pihak.
Sayang pertemuan itu tidak menghasilkan keputusan apa-apa. Hal tersebut dikarenakan keluarga Jesika Novanti Geli ngotot meminta agar Jesika bisa dipulangkan kembali ke Sumba usai melarikan diri ke Bima setelah sebulan lebih tinggal bersama suaminya.
Hal tersebut pun dibenarkan sejumlah pihak yang hadir dalam pertemuan tersebut diantaranya Lurah Weetabula, Florianus Nuwa Wea.
Dirinya menyebut kalau keputusan pertemuan saat itu adalah mengupayakan agar Jesika bisa kembali ke Sumba.
“Karena memang secara kasat mata juga kita melihat dari apa yang disampaikan Jessica dan kedua orang tua tidak bisa counter oleh kedua keluarga. Orang tua Jesika dan dari pihak Wedo ini tidak bisa bicara banyak kalau Jesika tidak hadir. Makanya kemarin keputusan, kesepakatan bersama dalam bentuk surat yang ditandatangi oleh kedua bela pihak dan disaksikan oleh lurah, kepala Desan dan yang hadir kemarin termasuk dari sumba TV,” ungkapnya kala itu.
Selain keputusan tersebut, dirinya membenarkan adanya berita acara yang ditandatangani oleh pihak keluarga.
Hal senada pun disampaikan oleh Penata Perlindungan Saksi dan Korban pada DP3AP2KB SBD, Clara Deny Christiana.
“Akan diselesaikan jika Jessica sudah ada di Sumba,” tegasnya, Kamis, 9 Januari lalu.
Bola Panas di Tangan Jesika
Kendati sudah ada keputusan yang demikian namun nyatanya kasus ini bakal berakhir lama.
Pasalnya, kepulangan Jesika hingga kini masih belum jelas mengingat keputusan kepulangan Jesika tersebut ada di tangan Jesika sendiri dan disesuaikan dengan kondisi psikisnya.
“Terkait pemulangan, kami akan berkoordinasi dengan PPA Kabupaten Bima dan kami sudah koordinasi soal itu jadi nanti mereka lihat kondisi Jessica dulu, kalau siap maka mereka akan mengantarnya kembali ke sini,” kata Clara lagi. ***
|
