NTTKreatif, WAIKABUBAK – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan oleh pemerintah pusat untuk mendukung kebutuhan nutrisi siswa sekolah mendapat sorotan setelah berbagai masalah muncul mulai dari temuan makanan basi hingga keluhan kualitas makanan dari para siswa.

Di Sumba Barat, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) ini sudah berjalan selama delapan hari, sejak tanggal 17 hingga hari ini tanggal 25 Februari 2025.

">

Sejak hari pertama dilauchingnya program ini di Sumba Barat masih berjalan lancar tanpa ada kendala berarti.

Namun, pada hari kelima tanggal 21 Februari 2025, muncul insiden di SDM Waikabubak I sebagai salah satu sekolah penerima Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Sumba Barat.

Saat itu, pihak sekolah menemukan makanan yang dibagikan oleh penyedia dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Ronita Peduli Sosial beraroma tidak sedap dan diduga sudah basi.

Makanan bergizi gratis yang beraroma tak sedap yang diduga sudah basi itu, mendapat protes dari orang tua siswa SDM Waikabubak I.

Protes itu datangnya dari Noviyanto, opa (nenek) dari salah satu siswa di SDM Waikabubak I. Noviyanto menyampaikan bahwa cucunya muntah-muntah setelah mengonsumsi makanan bergizi gratis yang dibagikan oleh penyedia di SDM Waikabubak I, pada Jumat tanggal 21 Februari 2025.

“Ijin saya pak Noviyanto yang mewakili ortu siswa SDM Waikabubak 1 terkait jumat kemarin makanannya bau dan cucu saya muntah di sekolah akibat makanan yang tidak sehat lagi,” kata Noviyanto, opa (nenek) salah satu siswa SDM Waikabubak I, kepada nttkreatif.com melalui via WhatsApp, pada Sabtu (22/2/2015) malam, pekan lalu.

Noviyanto mengaku, mengetahui tentang makanan yang dibagi SPPG Yayasan Ronita Peduli Sosial tersebut basi dari cucunya yang bersekolah di SDM Waikabubak I, Kabupaten Sumba Barat.

Bahkan kata Noviyanto dari cerita cucunya bahwa ada beberapa siswa lain teman dari cucunya sampai muntah usai mengkonsumsi makanan tersebut.

“Kronologi MBG di SDM saat cucu saya pulang sekolah bercerita ke mamanya, bahwa tadi (jumat kemarin) makan gratis di sekolah bau, saya mau makan rasa bau, saya mau rasa muntah dan lapor ibu guru di kelas,” jelas Noviyanto.

Atas peristiwa tersebut dari pengakuan cucunya itu, Noviyanto berharap agar penyedia harus memperbaiki cara pengelolaan dengan tenaga kerja yang berpengalaman.

“Terkait peristiwa ini saya berharap, agar vendor harus memperbaiki cara pengelolaan dengan tenaga kerja yang berpengalaman. Gunakan bahan makanan lokal Sumba yang minim pengawet seperti contoh daging ayam,” ujarnya.

Noviyanto juga menegaskan agar makan bergizi gratis tersebut harus ada pengawasan dari pihak terkait dari Dinas Kesehatan dan BPOM.

“Harus ada pengawasan pihak terkait dari dinas kesehatan dan BPOM,” tegasnya.

Dia berharap agar untuk selanjutnya, para guru di sekolah bisa lebih dahulu mengecek atau lebih dulu mencoba makanan yang ada sebelum dibagikan dan dikonsumsi oleh para siswa.

“Waktu makan, siswa jangan 10 menit kalau bisa 20 menit dan jika ada siswa ingin bawa pulang MBG jangan dilarang, itu sudah hak siswa yang dibayar negara,” katanya lagi.

Sementara itu, Kepala SDM Waikabubak I, Miladi Lidia Here Wlla, membenarkan kejadian ini. Beberapa siswanya mengalami muntah-muntah setelah mengonsumsi makanan yang dibagikan oleh penyedia layanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Ronita Peduli Sosial.

Saat itu, pihak sekolah mengimbau kepada siswa untuk tidak mengkonsumsi makanan tersebut sebelum terjadi dampak kesehatan yang lebih serius. Atas kejadian ini, pihak sekolah pun mengeluh tentang makanan yang dibagikan oleh penyedia dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Ronita Peduli Sosial. Pengeluhan pihak sekolah makan bergizi gratis yang beraroma tidak sedap yang diduga sudah basi ini, tidak diresponi dengan baik oleh penyedia, justru mengeluarkan surat yang tujuannya untuk menghentikan (tidak melayani) makanan bergizi gratis di sekolah tersebut.

Kepala Badan Gizi Nasional Kabupaten Sumba Barat, Natalia Deta, menyatakan bahwa penghentian ini bertujuan untuk memastikan kualitas makanan tetap terjaga serta melakukan evaluasi guna keberlanjutan program ini secara baik. Meski layanan dihentikan di SDM Waikabubak I, delapan sekolah lainnya yang mengikuti program ini masih tetap dilayani dan menerima makanan bergizi gratis.

Natalia juga menegaskan bahwa pihaknya berkomitmen untuk segera melanjutkan layanan di SDM Waikabubak setelah evaluasi selesai. Evaluasi ini diperkirakan akan berlangsung selama satu minggu sebelum layanan kembali diberikan di SDM Waikabubak I.

SDM Waikabubak I sendiri memiliki 674 siswa yang menjadi penerima manfaat dari program ini. Secara keseluruhan, sembilan sekolah yang terlibat dalam program ini melayani 3.128 siswa di Kabupaten Sumba Barat.

Pihak sekolah berharap agar layanan makan bergizi gratis dapat segera kembali beroperasi dan dilayani di sekolah tersebut karena sangat bermanfaat.

Mengingat banyak siswa yang aktif masuk sekolah setelah program ini suda di luncurkan di sekolah tersebut guna untuk mendapatkan asupan gizi yang cukup melalui makan bergizi gratis yang di luncurkan oleh pemerintah pusat di daerah.***

Terima Kasih sudah membaca berita/artikel kami. Terus dukung kami dengan cara berdonasi ke Rek Bank NTT: 2513684625